(Renungan) Begitu Bahagia hingga Rela Mati
Begitu Bahagia hingga Rela Mati
(Dika Alberto)
Kalender Liturgi Senin, 2 Februari 2026
Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah
Bacaan Pertama: Ibr. 2:14-18
Mazmur Tanggapan: Mzm. 24:7.8.9.10
Bacaan Injil: Luk. 2:22-40
Suatu hari saat hujan lebat mengguyur, saya berteduh di emperan toko. Ada bapak penjual es buah keliling juga berteduh di situ. Meskipun cuaca tidak mendukung, namun melihat dagangannya masih banyak, saya tergerak untuk membeli. “Minta satu pak, esnya sedikit saja.” Saya menikmati sambil membisu. Tiba-tiba si bapak bertanya, “Bapak anaknya berapa?” Reaksinya heran setelah tahu saya memilih tidak berkeluarga. Kemudian dia bercerita bahwa dulunya juga berpikir untuk tidak berkeluarga, karena takut anak-anaknya tidak bisa bersekolah seperti dia. Calon istrinyalah yang berhasil meyakinkannya. Mereka sama-sama bertekad untuk memberikan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Sayangnya sebelum semua tercapai, si istri meninggal dunia. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, si istri berpesan agar dia tetap berjuang mewujudkan tekad mereka. “Bersama Allah, bapak pasti bisa”, katanya.
Walau hati hancur dan berat menjalaninya, namun demi masa depan anak-anak dia terus berjuang. Dia yakin Tuhan mendengar doa dan niat mereka. Kini dua anaknya sudah lulus sarjana dan bekerja. Tidak lama lagi anak bungsunya akan lulus. “Kalau si bungsu sudah lulus, bapak bisa mati dengan tenang,” tuturnya lirih.
Sebagai orang tua yang setia dan taat, baik secara spiritual kepada Allah maupun secara sosial menurut adat masyarakat mereka, Yusuf dan Maria mempersembahkan bayi Yesus ke kenisah sesuai hukum Taurat Musa. Tindakan mereka juga membawa kebahagiaan bagi Simeon dan Hana, dua tokoh dari dunia Perjanjian Lama yang hidup dalam pengharapan akan perbaikan. Simeon yang hidup dalam kepercayaan orang Yahudi, mewakili mereka yang begitu rindu akan penghiburan Tuhan bagi umat-Nya. Hana mewakili orang-orang saleh yang menantikan penebusan Yerusalem dari kondisi terpuruk. Simeon mengungkapkan kelegaan yang luar biasa ketika melihat keselamatan telah datang. “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang datang dari-Mu.”
Hanya dengan melihat, Simeon begitu berbahagia hingga rela mati. Bagaimana dengan kita yang sudah diselamatkan oleh-Nya?
Doa:
Terima kasih Yesus, Engkau telah menebus dan menyelamatkan kami. Kuduskanlah kami agar dengan penuh kesadaran menerima kehadiran-Mu, mengandalkan-Mu, senantiasa bersyukur dan berbagi, karena Engkaulah sumber keselamatan sejati bagi semua orang. Amin.
(Dika Alberto)
“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang datang dari-Mu.”
(Luk. 2:29-30)
Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah
Bacaan Pertama: Ibr. 2:14-18
Mazmur Tanggapan: Mzm. 24:7.8.9.10
Bacaan Injil: Luk. 2:22-40
Suatu hari saat hujan lebat mengguyur, saya berteduh di emperan toko. Ada bapak penjual es buah keliling juga berteduh di situ. Meskipun cuaca tidak mendukung, namun melihat dagangannya masih banyak, saya tergerak untuk membeli. “Minta satu pak, esnya sedikit saja.” Saya menikmati sambil membisu. Tiba-tiba si bapak bertanya, “Bapak anaknya berapa?” Reaksinya heran setelah tahu saya memilih tidak berkeluarga. Kemudian dia bercerita bahwa dulunya juga berpikir untuk tidak berkeluarga, karena takut anak-anaknya tidak bisa bersekolah seperti dia. Calon istrinyalah yang berhasil meyakinkannya. Mereka sama-sama bertekad untuk memberikan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Sayangnya sebelum semua tercapai, si istri meninggal dunia. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, si istri berpesan agar dia tetap berjuang mewujudkan tekad mereka. “Bersama Allah, bapak pasti bisa”, katanya.
Walau hati hancur dan berat menjalaninya, namun demi masa depan anak-anak dia terus berjuang. Dia yakin Tuhan mendengar doa dan niat mereka. Kini dua anaknya sudah lulus sarjana dan bekerja. Tidak lama lagi anak bungsunya akan lulus. “Kalau si bungsu sudah lulus, bapak bisa mati dengan tenang,” tuturnya lirih.
Sebagai orang tua yang setia dan taat, baik secara spiritual kepada Allah maupun secara sosial menurut adat masyarakat mereka, Yusuf dan Maria mempersembahkan bayi Yesus ke kenisah sesuai hukum Taurat Musa. Tindakan mereka juga membawa kebahagiaan bagi Simeon dan Hana, dua tokoh dari dunia Perjanjian Lama yang hidup dalam pengharapan akan perbaikan. Simeon yang hidup dalam kepercayaan orang Yahudi, mewakili mereka yang begitu rindu akan penghiburan Tuhan bagi umat-Nya. Hana mewakili orang-orang saleh yang menantikan penebusan Yerusalem dari kondisi terpuruk. Simeon mengungkapkan kelegaan yang luar biasa ketika melihat keselamatan telah datang. “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang datang dari-Mu.”
Hanya dengan melihat, Simeon begitu berbahagia hingga rela mati. Bagaimana dengan kita yang sudah diselamatkan oleh-Nya?
Doa:
Terima kasih Yesus, Engkau telah menebus dan menyelamatkan kami. Kuduskanlah kami agar dengan penuh kesadaran menerima kehadiran-Mu, mengandalkan-Mu, senantiasa bersyukur dan berbagi, karena Engkaulah sumber keselamatan sejati bagi semua orang. Amin.

Komentar
Posting Komentar