(Renungan) Efata! Terbukalah!

Efata! Terbukalah!
(F. Angelina Wiraatmaja)

Sambil menengadah ke langit Yesus mendesah dan berkata kepadanya, 
“Efata!”, artinya: Terbukalah!
(Mrk.7:34)

Kalender Liturgi Jumat, 13 Februari 2026
Bacaan Pertama: 1Raj. 11:29-32.12:19
Mazmur Tanggapan: Mzm. 81:10-11ab.12-13.14-15
Bacaan Markus: Mrk. 7:31-37

Dalam kesibukan hidup sehari-hari, pekerjaan, bisnis, gaya hidup, dan berbagai tuntutan, sering kali Tuhan tergeser dari prioritas. Ritme hidup yang padat membuat kita kehilangan ruang untuk hening dan tidak lagi peka mendengarkan bisikan kehendak-Nya. Telinga batin pun dipenuhi kebisingan duniawi hingga kita menjadi tuli secara rohani. Karena itu, seruan Yesus, “Efata! Terbukalah!” menjadi panggilan yang relevan agar hati kita kembali terbuka untuk mendengarkan Firman, memahami kehendak Bapa, dan mewartakan kasih-Nya kepada sesama.

Bacaan di atas menunjukkan bahwa Yesus menyembuhkan di wilayah Dekapolis, daerah non-Yahudi, yang menegaskan bahwa rahmat, kasih, dan kuasa-Nya melampaui batas geografis, budaya, dan suku bangsa. Perikop ini menggambarkan keterbatasan manusia; baik secara fisik, tuli dan gagap, maupun secara rohani; terutama dalam relasi dengan Tuhan. Yesus menyembuhkan dengan cara yang sangat personal dan penuh kasih, dengan menarik orang itu ke tempat tersendiri, menyentuhnya, dan berseru “Efata!” lalu sembuhlah orang itu. Seruan Yesus, “Efata! Terbukalah!” juga menjadi undangan agar hati manusia terbuka untuk mendengar Firman, memahami kehendak Tuhan, dan mewartakan kasih-Nya.

Santo Bartolo Longo adalah contoh nyata bagaimana seruan ‘Efata’ bekerja dalam kehidupannya. Ia dikenal sebagai Rasul Rosario yang diangkat menjadi santo pada Oktober 2025. Ia bertobat dari imam pemuja setan dan hidup dalam kegelapan rohani yang mendalam. Hatinya tertutup bagi Tuhan, telinga batinnya terbuka bagi suara yang salah. Hidupnya diliputi kegelisahan, kehampaan, dan keputusasaan. Di titik terendah hidupnya, Tuhan menyapanya melalui Doa Rosario, dan terjadilah ‘Efata’ dalam hidupnya. Hatinya terbuka untuk kembali mendengarkan Tuhan. Hidupnya dipulihkan. Mulutnya yang dahulu salah arah, kini dibuka untuk mewartakan kasih Allah. Dari seorang yang tersesat, ia berubah menjadi penyebar Rosario yang sangat berbuah, membangun karya iman dan sosial, serta membawa banyak jiwa kembali kepada Tuhan. Hidupnya menjadi kesaksian bahwa ketika hati terbuka, rahmat Tuhan bekerja melampaui masa lalu manusia.

Sudahkah hati dan telinga batin kita sungguh terbuka untuk mendengarkan suara Tuhan di tengah kesibukan hidup?

Doa:
Bapa Yang Maha Pengasih, di tengah kesibukan hidup kami, bukalah telinga dan hati kami agar peka mendengarkan firman-Mu. Mampukan kami menyediakan ruang hening untuk memahami kehendak Bapa dan menjadikan hidup kami sebagai sarana pewartaan kasih-Mu bagi sesama. Kami alaskan doa ini di dalam nama Yesus Kristus Putra-Mu dan pengantara kami. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia