(Renungan) Gagal Paham

Gagal Paham
(Florentina Sri Retno Adji)

Kata Petrus kepada Yesus, "Tuhan, sungguh baik kita berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."
(Mat. 17:4)

Kalender Liturgi Minggu, 1 Maret 2026
Hari Minggu Prapaskah II
Bacaan Pertama: Kej.12:1-4a
Mazmur Tanggapan: Mzm. 33:4-5.18-19.20.22
Bacaan Kedua: 2Tim. 1:8b-10
Bacaan Injil: Mat. 17:1-9
 
Dalam bacaan Injil hari ini, Petrus, Yakobus, dan Yohanes mengalami penglihatan akan kemuliaan Yesus. Mereka melihat wajah-Nya bercahaya dan pakaian-Nya putih bersinar. Ia berbicara dengan Musa dan Elia. Para murid memahami hal ini sebagai penegasan bahwa Yesus adalah pemenuhan hukum Taurat dan nubuat para nabi. Ketiga murid mengira kerajaan Yesus telah datang, dan mereka akan ambil bagian di dalamnya. Maka Petrus meminta izin untuk mendirikan kemah bagi Yesus, Musa, dan Elia. 

Dalam keadaan baik-baik saja, bahagia, sukses, dan sehat, sangatlah mudah merasakan kehadiran Allah; membuat kita melekat pada euforia ini. Seperti Petrus, yang ingin terus merasakannya, hingga terlontar ucapan, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.” Mereka ingin berlama-lama bersama Yesus dalam kemuliaan-Nya.

Kita sering gagal paham akan arti kemuliaan. Kegagalan, sakit, kehinaan, kehilangan, bagi kita bukanlah keadaan yang mulia. Sering kali kita memohon penghiburan Yesus, namun tidak mau merasakan penderitaannya, maka sebagian besar kita memilih menghindarinya. Tetapi Yesus memilih jalan kesengsaraan, yang dikehendaki Allah. Dia melaluinya dengan tekun, taat dan setia, untuk sampai pada kemuliaan yang diberikan Allah kepada-Nya.

Pada masa pandemi Covid-19, ibuku mengalami sakit psikologis yang cukup parah yaitu panic attack. Hal ini berdampak pada kesehatannya: asam lambung, kadar gula dan tekanan darah naik tidak terkendali. Kami sekeluarga sangat sedih melihat kondisi Ibu. Aku berdoa dengan tekun memohon mukjizat kesembuhan ibu. Namun kondisi ibu malah semakin parah. Dalam keadaan bingung, aku merasa ditegur Tuhan melalui sebuah renungan romo: “Mukjizat juga terjadi pada diri kita, saat kita bisa menerima kehendak Allah.” 

Teguran ini mengubah sikap doaku. Seperti Yesus memahami kelemahan dan kerapuhan murid-murid-Nya dan menguatkannya dengan berkata “Berdirilah, jangan takut!” (Mat. 17:7). Aku pun seperti diberi kekuatan baru untuk memohon diberi hati yang ikhlas dan sabar menghadapi sakit yang diderita ibu dan bersedia memikul salibku, yaitu merasakan kesedihan karena ibu sakit. 

Apakah kita sering gagal paham memaknai kemuliaan Tuhan dalam hidup kita? 

Doa:
Allah yang sangat mengasihi kami, berilah kami rahmat untuk dapat melihat kemuliaan-Mu dalam seluruh peristiwa yang kami alami dalam hidup, senang maupun susah. Bila karena kelemahan, kami menjadi bimbang dan tidak mau memikul salib, bersegeralah menolong dan menguatkan kami. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia