(Renungan) Garam dan Terang untuk Bumi

Garam dan Terang untuk Bumi
(Yoseph Deddy Kurniawan)

"Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga."
(Mat. 5:16)

Kalender Liturgi Minggu, 8 Februari 2026
Bacaan Pertama: Yes. 58:7-10
Mazmur Tanggapan: Mzm. 112:4-5.6-7.8a.9
Bacaan Kedua: 1Kor. 2:1-5
Bacaan Injil: Mat. 5:13-16

Pagiku dimulai dengan kabut asap kota dan berita tentang es di kutub yang terus mencair. Dari berita di televisi, kusaksikan bumi bersedih: sungai yang terjerat sampah, udara yang berat oleh emisi, dan manusia yang berlari mengejar pertumbuhan dengan mengorbankan keutuhan ciptaan. Lalu, dalam keheningan doa, sabda Allah itu kembali menggema, "Kamu adalah garam dunia... Kamu adalah terang dunia." Kata-kata sederhana, tetapi menggelisahkan hati.

Perumpamaan garam dalam bacaan ini bukan sekadar metafora pasif. Garam, menurut Yesus, harus tetap asin, serta harus menjalankan fungsinya untuk memberi rasa dan mengawetkan. Dalam konteks bumi yang terluka, menjadi 'garam' berarti menjadi agen yang mencegah pembusukan ekologis. Setiap tindakan menjaga alam, mengurangi plastik, menghemat air, dan memilih hidup sederhana adalah cara kita mempertahankan 'keasinan' iman yang nyata. Namun, Yesus juga memberi peringatan, garam yang menjadi tawar tidak berguna lagi. Renungan ini mengusikku "Apakah keimananku masih memiliki 'rasa' kepedulian yang tajam terhadap ciptaan, atau sudah tawar oleh kenyamanan dan sikap acuh?"

Kemudian, soal terang. Terang dimaksudkan untuk dilihat dan untuk memancar. Dalam kegelapan krisis iklim, menjadi terang berarti hidup yang mempraktikkan keadilan ekologis, menyinari ketidakpedulian, dan menunjukkan jalan pemulihan. Namun terang itu bukan untuk kemegahan diri, "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” (Mat. 5:16) Ini tentang kemuliaan Allah, bukan pujian manusia.

Maka, marilah menyalakan 'pelita kita'! Kita mencoba berusaha tidak menggunakan barang sekali pakai, menolak penggunaan sedotan plastik, mengurangi serta memilah sampah. Bukan karena kita pahlawan, tetapi karena kita rindu menjadi garam yang masih asin -sedikit saja- dan pelita yang tetap menyala, meski redup. Dalam tindakan kecil yang disengaja, ada puji-pujian sunyi bagi Sang Pencipta langit dan bumi. Barang kali, dari sanalah pemulihan bumi yang rindu akan dimulai; dari orang-orang biasa seperti kita yang memilih untuk tidak menjadi tawar, dan untuk tidak menyembunyikan terangnya.

Doa:
Bapa Yang Maha Baik, jika kami adalah garam, semoga kami tidak kehilangan rasa pedih-Mu untuk bumi yang merintih. Jika kami adalah terang, semoga kami berani menyala dalam kegelapan kelalaian. Ajari kami menghidupi Injil, dengan cara yang membumi dan memuliakan-Mu. Amin.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia