(Renungan) Iman Sejati Tidak Tergantung pada Tanda

Iman Sejati Tidak Tergantung pada Tanda
(Dyah Budiwati)

Lalu mendesahlah Ia dalam hati-Nya dan berkata, “Mengapa orang-orang zaman ini meminta tanda? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” 
(Mrk 8:12)

Kalender Liturgi Senin, 16 Februari 2026
Bacaan Pertama: Yak 1:1-11
Mazmur Tanggapan: Mzm 119:67,68,71,72,75,76
Bacaan Injil: Mrk 8:11-13

Penginjil Markus menuliskan kisah tentang orang Farisi yang meminta tanda dari surga untuk memastikan apakah Yesus sungguh Mesias yang dijanjikan Allah. Namun, permintaan itu bukan lahir dari iman, melainkan untuk mencobai dan bahkan menyalahkan Yesus bila jawaban-Nya tidak sesuai dengan pikiran mereka. Yesus, yang mengetahui isi hati manusia, mengeluh atas kedegilan hati mereka dan berkata bahwa angkatan ini tidak akan diberi tanda. Ia pun meninggalkan mereka, sebab Ia tahu bahwa mereka tidak akan percaya. Dengan demikian orang Farisi kehilangan kesempatan menerima kehadiran Yesus karena ketidakpercayaan mereka.

Kerap kali manusia juga mencari tanda dalam hidup, terutama tentang masa depan: jodoh, pekerjaan atau hal-hal lain. Namun, Tuhan tidak selalu memberi tanda yang kita inginkan. Ia menghendaki kita percaya dan mengandalkan-Nya, bukan pada tanda-tanda ajaib.

Saya sendiri pernah mengalaminya. Di awal tahun 1989, ketika ditinggalkan pacar, saya merasa hancur. Saat itu saya belum bekerja dan belum menjadi Katolik, meski sudah dibaptis di Gereja non-Katolik. Saya memaksa Tuhan mengikuti keinginan hati, tetapi akhirnya sadar bahwa saya harus lebih bersandar kepada-Nya. Firman Tuhan dalam Matius 6:33-34 mengingatkan saya utuk menomorsatukan Tuhan dan kebenaran-Nya, serta tidak khawatir akan hari esok.
 
Dalam keterpurukan, saya berdoa dan berserah. Mukjizat terjadi. Akhir 1989 saya diterima bekerja di sebuah BUMN besar tanpa referensi siapa pun. Setelah dua tahun menganggur, Tuhan membuka jalan yang tidak pernah saya bayangkan. Kemudian Tuhan mempertemukan saya dengan suami yang membawa saya masuk Katolik. Dari pengalaman itu saya belajar: iman sejati tidak bergantung pada tanda, melainkan pada kepercayaan penuh kepada Tuhan.

Hidup ini bukan tentang mencari tanda, melainkan tentang berjalan dengan iman, bekerja sebaik mungkin, bersyukur atas setiap peristiwa dan menyerahkan diri kepada-Nya. 

Ketika kita menomorsatukan Tuhan, Ia akan menambahkan segala sesuatu yang kita butuhkan. Iman sejati adalah percaya meski tanpa tanda, sebab Tuhan selalu setia menyertai kita.

Doa:
Allah Bapa Yang Maha Baik, terima kasih untuk semua yang sudah kami terima sampai saat ini. Jangan pernah lepaskan kami dari tangan-Mu. Ajarlah kami hanya percaya, berserah kepada-Mu, karena hanya Engkaulah yang berkuasa atas semua kehidupan di dunia ini maupun di surga. Kuatkanlah iman kami untuk lebih berserah dan percaya kepada-Mu. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia