(Renungan) Koyakkanlah Hatimu
Koyakkanlah Hatimu
(Inovi Isdiyantoro)
(Inovi Isdiyantoro)
Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu,
sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.
Ia menyesal atas malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.
(Yl. 2:13)
Hari Rabu Abu
Bacaan Pertama: Yl. 2:12-18
Mazmur Tanggapan: Mzm. 51:3-4.5-6ab.12-13.14.17
Bacaan Kedua: 2Kor. 5:20-6:2
Bacaan Injil: Mat. 6:1-6.16-18
Bacaan liturgi hari ini mengajak kita untuk memasuki masa Prapaskah dengan diawali hari ini, Rabu Abu. Abu adalah tanda pertobatan. Kitab Suci mengisahkan abu sebagai tanda pertobatan, seperti pada pertobatan Niniwe (Yun. 3:6). Kita diingatkan bahwa kita diciptakan dari debu tanah (Kej. 2:7) dan suatu saat nanti kita akan mati dan kembali menjadi debu. Oleh karena itu, pada saat menerima abu di gereja, kita mendengar ucapan dari romo, “Bertobatlah, dan percayalah kepada Injil.”
Nabi Yoel dalam bacaan pertama dengan sangat tegas mengatakan, “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Ia menyesal atas malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.” Jika mengoyakkan pakaian mudah, apakah mudah mengoyakkan hati? Mengoyakkan hati membutuhkan pengorbanan dan tekad yang kuat untuk berubah.
Ketika kita berpuasa, kita belajar untuk mendisiplinkan nafsu dan keinginan manusiawi kita. Sering kali kita dengan mudah, menyerah pada keegoisan kita untuk hal-hal yang tidak penting. Tetapi puasa yang sejati melatih kesadaran dan pengendalian diri untuk benar-benar membentuk hati yang berkenan di hadapan Tuhan.
Saya teringat obrolan dengan teman saya tahun lalu. Dia bertanya apakah saya puasa dan pantang. Saya jawab, “Saya hanya makan kenyang satu kali.” Dia dengan takjub berkata, “Wah keren dong. Saya puasa dari pagi sampai sore, bro. Pantang daging dan merokok.” Saya tanya, “Yakin kamu pantang merokok?” Dia jawab, “Iya, pantang rokok dari dari pagi sampai sore, tapi setelah sore ya merokok lagi.” Saya jawab, “Sama aja dong kamu tetap merokok.”
Pada masa Prapaskah ini, marilah kita bertanya: Apa yang bisa kita lepaskan dari hidup kita selama masa puasa ini? Apa yang kita harapkan dapat kita temukan dalam diri kita setelah masa puasa ini? Tuhan mengajak kita untuk mengoyakan hati dan berbalik kepada-Nya, meninggalakan sikap hati yang jauh dari Tuhan dan bertobat secara penuh.
Doa:
Allah Bapa yang penuh kasih, terima kasih atas kesempatan untuk mendekatkan diri kepada-Mu. Bantulah kami untuk mengoyakkan hati kami dan menjauhkan diri kami dari hal-hal yang tidak berguna selama masa Prapaskah ini. Berilah kami kekuatan dan utuslah Roh Kudus untuk menaungi dan mendampingi kami, agar kami bisa dan mampu melaksanakan puasa dan pantang dengan benar. Amin.
Allah Bapa yang penuh kasih, terima kasih atas kesempatan untuk mendekatkan diri kepada-Mu. Bantulah kami untuk mengoyakkan hati kami dan menjauhkan diri kami dari hal-hal yang tidak berguna selama masa Prapaskah ini. Berilah kami kekuatan dan utuslah Roh Kudus untuk menaungi dan mendampingi kami, agar kami bisa dan mampu melaksanakan puasa dan pantang dengan benar. Amin.

Komentar
Posting Komentar