(Renungan) Melayani dengan Hati
Melayani dengan Hati
(Wiwi Setiawati Dermawan)
Kalender Liturgi Kamis, 5 Februari 2026
PW. S. Agata, Perawan dan Martir
Bacaan Pertama: 1Raj. 2:1-4.10-12
Mazmur Tanggapan: 1Taw. 29:10.11ab.11d-12a.12bcd
Bacaan Injil: Mrk. 6:7-13
Yesus mengutus kedua belas murid-Nya pergi berdua-dua dan memberi kuasa atas roh-roh jahat. Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat saja, roti pun jangan, kantong perbekalan pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan (Mrk. 6:7-8). Dengan perutusan ini, Yesus mengajarkan bahwa tugas pewartaan tidak mengandalkan kekuatan manusiawi, melainkan sepenuhnya bersandar pada penyelenggaraan Allah. Perutusan para murid itu kini dilanjutkan oleh kita semua sebagai murid Kristus di zaman ini.
Menjadi murid Yesus berarti kita siap untuk melayani. Pemuridan dan pelayanan adalah suatu jalinan hidup kristiani di mana kita berada dalam suatu hubungan yang akrab dan personal dengan Yesus. Pelayanan kristiani dapat terlaksana dengan benar bila tumbuh dan berasal dari hati yang berakar dan berdasar kasih Kristus (Ef. 3:17). Selalu mengandalkan kasih dan kuasa-Nya yang menjadi fondasi segala perbuatan dan motivasi pelayanan.
Melayani dengan hati tidak terlepas dari doa, agar dapat memahami betapa luas, panjang, tinggi, dan dalamnya kasih Yesus yang melampaui pengetahuan manusia. Pemahaman melalui Roh Kudus dan iman, hingga kita dipenuhi oleh kepenuhan Allah agar bisa melayani dan hidup sesuai kehendak-Nya.
Ada seorang ibu rumah tangga yang sangat aktif dalam pelayanan setiap hari, hingga mengabaikan anak-anak nya yang masih membutuhkan pendampingan. Dia tidak menyadari anak-anaknya sering membuat keonaran yang mengganggu tetangga di sekitarnya.
Kewajiban utama dalam rumah tangga yaitu melayani orang-orang terdekat di dalam rumah. ”Cinta dimulai dengan merawat orang-orang terdekat yang ada di rumah” (kutipan Santa Teresa dari Calcutta).
Melayani dengan kasih, bukan untuk pujian atau pencapaian pribadi. Melayani dengan kuasa Allah, sehingga pelayanan mencerminkan kasih Yesus yang mendalam. Kutipan bijak Santa Teresa dari Calcutta: “Jika anda tidak dapat melakukan hal-hal besar, lakukanlah hal-hal kecil dengan cinta yang besar.”
Sebagai pelayan kristiani, kita menerima berkat Allah dengan penuh rasa syukur, mengembangkannya dengan penuh tanggung jawab, membaginya dengan penuh kasih serta adil kepada sesama, dan mengembalikannya berlipat ganda pada Allah.
(Wiwi Setiawati Dermawan)
Ia memanggil kedua belas murid itu dan mulai mengutus mereka berdua-dua.
(Mrk. 6:7a)
PW. S. Agata, Perawan dan Martir
Bacaan Pertama: 1Raj. 2:1-4.10-12
Mazmur Tanggapan: 1Taw. 29:10.11ab.11d-12a.12bcd
Bacaan Injil: Mrk. 6:7-13
Yesus mengutus kedua belas murid-Nya pergi berdua-dua dan memberi kuasa atas roh-roh jahat. Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat saja, roti pun jangan, kantong perbekalan pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan (Mrk. 6:7-8). Dengan perutusan ini, Yesus mengajarkan bahwa tugas pewartaan tidak mengandalkan kekuatan manusiawi, melainkan sepenuhnya bersandar pada penyelenggaraan Allah. Perutusan para murid itu kini dilanjutkan oleh kita semua sebagai murid Kristus di zaman ini.
Menjadi murid Yesus berarti kita siap untuk melayani. Pemuridan dan pelayanan adalah suatu jalinan hidup kristiani di mana kita berada dalam suatu hubungan yang akrab dan personal dengan Yesus. Pelayanan kristiani dapat terlaksana dengan benar bila tumbuh dan berasal dari hati yang berakar dan berdasar kasih Kristus (Ef. 3:17). Selalu mengandalkan kasih dan kuasa-Nya yang menjadi fondasi segala perbuatan dan motivasi pelayanan.
Melayani dengan hati tidak terlepas dari doa, agar dapat memahami betapa luas, panjang, tinggi, dan dalamnya kasih Yesus yang melampaui pengetahuan manusia. Pemahaman melalui Roh Kudus dan iman, hingga kita dipenuhi oleh kepenuhan Allah agar bisa melayani dan hidup sesuai kehendak-Nya.
Ada seorang ibu rumah tangga yang sangat aktif dalam pelayanan setiap hari, hingga mengabaikan anak-anak nya yang masih membutuhkan pendampingan. Dia tidak menyadari anak-anaknya sering membuat keonaran yang mengganggu tetangga di sekitarnya.
Kewajiban utama dalam rumah tangga yaitu melayani orang-orang terdekat di dalam rumah. ”Cinta dimulai dengan merawat orang-orang terdekat yang ada di rumah” (kutipan Santa Teresa dari Calcutta).
Melayani dengan kasih, bukan untuk pujian atau pencapaian pribadi. Melayani dengan kuasa Allah, sehingga pelayanan mencerminkan kasih Yesus yang mendalam. Kutipan bijak Santa Teresa dari Calcutta: “Jika anda tidak dapat melakukan hal-hal besar, lakukanlah hal-hal kecil dengan cinta yang besar.”
Sebagai pelayan kristiani, kita menerima berkat Allah dengan penuh rasa syukur, mengembangkannya dengan penuh tanggung jawab, membaginya dengan penuh kasih serta adil kepada sesama, dan mengembalikannya berlipat ganda pada Allah.
Sebagai murid Yesus, sudah siapkah kita melayani dengan hati? Hati yang penuh kasih pada Yesus dan sesama.
Doa:
Yesus Yang Maha Kasih, Engkau lah sumber kasih sejati. Curahkanlah selalu kasih-Mu dalam hati kami, agar kami dapat melayani-Mu dan sesama dengan hati. Jadikanlah kami makin peduli terhadap sesama seperti bunda Maria. Amin.
Doa:
Yesus Yang Maha Kasih, Engkau lah sumber kasih sejati. Curahkanlah selalu kasih-Mu dalam hati kami, agar kami dapat melayani-Mu dan sesama dengan hati. Jadikanlah kami makin peduli terhadap sesama seperti bunda Maria. Amin.

Komentar
Posting Komentar