(Renungan) Mengasihi Musuh Lewat Kacamata Yesus

Mengasihi Musuh Lewat Kacamata Yesus
(Lucia Janti Krestina)

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
(Mat. 5:46)

Kalender Liturgi Sabtu, 28 Februari 2026
Hari Biasa Pekan Prapaskah I
Bacaan Pertama: Ul. 26:16-19
Mazmur Tanggapan: Mzm.119:1-2. 4-5.7-8
Bacaan Injil: Mat. 5:43-48 

Salah satu ciri utama umat beriman adalah mengasihi sesama. Dalam bacaan pertama, bangsa Israel diingatkan bahwa kesetiaan kepada Allah tidak berhenti pada ketaatan menjalankan hukum, melainkan terwujud dalam cara hidup sebagai umat pilihan-Nya. Kesetiaan itu menemukan kepenuhannya dalam Injil hari ini, ketika Yesus mengajak para murid melampaui hukum 'mata ganti mata' dan masuk ke dalam kasih yang sempurna: mengasihi musuh dan mendoakan mereka yang berbuat jahat. Kasih semacam ini bukan kasih yang bersyarat, melainkan kasih yang meneladani kasih Allah sendiri, yang mengasihi tanpa membeda-bedakan.

Yesus dengan tegas berkata, “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu?” (Mat. 5: 46a). Sabda ini menyentil hati dan menggugah kesadaran iman. Aktif dalam pelayanan, rajin ke gereja, dan tekun berdoa tidaklah berarti apa-apa jika tidak disertai kasih. Inilah yang dikehendaki Tuhan dari umat-Nya, bukan sekadar ketaatan lahiriah, melainkan hati yang mampu mengampuni dan menolong tanpa pandang bulu; sebagaimana Yesus sendiri telah meneladankannya.

Suatu ketika, seorang ibu yang dikenal sering bermuka masam dan cenderung menutup diri terhadap para tetangganya mengalami dukacita karena kehilangan suaminya. Beberapa tetangga yang merasa iba datang melayat, namun sikap ibu tersebut tetap tidak berubah. Ia bersikap dingin, bahkan ada salam dari beberapa tetangga yang tidak digubrisnya. Dalam situasi yang sulit itu, ia akhirnya meminta bantuan umat Katolik untuk mengadakan ibadat arwah. Seorang sukarelawan pun datang memimpin Doa Rosario dan beberapa warga berinisiatif menghubungi pengurus lingkungan untuk membantu. Sikap orang-orang yang berhati baik ini menjadi teladan nyata, serupa dengan orang Samaria yang murah hati (lih. Luk. 10:25–37).

Pengalaman sederhana ini menyadarkanku bahwa kasih sejati sering kali diuji justru ketika tidak ada penghargaan, ucapan terima kasih, atau balasan yang menyenangkan. Namun di situlah iman menemukan daya kekuatannya: ketika kita tetap memilih mengasihi, bukan karena sikap orang lain, melainkan karena kita ingin setia pada kehendak Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, beranikah aku mengasihi mereka yang sulit kukasihi? 

Doa:
Allah Bapa, sumber kasih sejati, kuatkanlah kami agar tidak berhenti mengasihi hanya karena kami tidak dimengerti atau dihargai. Bentuklah hati kami agar semakin serupa dengan hati-Mu. Amin.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia