(Renungan) Mengikuti Yesus dalam Keseharian

Mengikuti Yesus dalam Keseharian
(Marcellus Nur Basah)

Lewi pun bangkit dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.
(Luk. 5:28)

Kalender Liturgi Sabtu, 21 Februari 2026 
Hari Sabtu sesudah Rabu Abu
Bacaan Pertama: Yes. 58: 9b-14
Mazmur Tanggapan: Mzm. 86:1-2.3-4.5-6
Bacaan Injil: Luk. 5:27-32

Secara manusiawi, Lewi, yang juga dikenal sebagai Matius, tidak serta-merta memutuskan untuk mengikuti Yesus tanpa pergulatan batin sebelumnya. Sebagai seorang Lewi, ia seharusnya bekerja di Bait Allah. Namun, ia memilih menjadi pemungut cukai bagi pemerintah. Profesi ini identik dengan ketidakjujuran dan penindasan, karena kerap mengambil keuntungan pribadi dari rakyat. Maka wajar bila Lewi menyadari bahwa hidupnya dipenuhi dosa dan jauh dari Allah.

Sebagai seorang pegawai publik, Lewi pasti telah mendengar tentang Yesus yang mulai ‘viral’ pada saat itu. Ketika Yesus datang dan memanggilnya, ajakan itu bagaikan membuka pintu kebebasan dalam hatinya. Gejolak batin yang lama menekan kini menemukan jalan keluar. Ia merasakan damai yang telah lama hilang, yang hanya mungkin diperolehnya ketika ia meninggalkan pola hidup berdosa. Karena rasa syukur atas pembebasan batin itulah, ia rela meninggalkan status dan pekerjaannya demi mengikuti Yesus.

Pengalaman serupa, pernah saya alami ketika terlibat dalam sebuah produksi film rohani. Film tersebut akhirnya meraih juara dalam festival film rohani di Polandia. Saya mendapati nama saya dalam daftar jadwal pengambilan gambar sebagai pemeran kecil, diganti nama orang lain. Malam itu saya menangis sedih dan membawanya dalam doa. Namun, di tengah keheningan, saya mendengar suara batin berkata, “Kamu tetap main.” Dengan penuh iman, saya memilih untuk tetap menghafalkan naskah, meskipun hanya untuk peran kecil.

Kebetulan, saya juga bertugas sebagai kru pembantu penata suara. Pada hari pengambilan gambar, secara tak terduga saya dipanggil oleh sutradara, seorang pastor SJ, dan diminta untuk tetap memerankan peran tersebut. Saat itu, saya merasakan seolah Tuhan sendiri yang berbicara dan mengajak saya ambil bagian dalam karya pewartaan-Nya melalui media film. Tugas itu pun saya jalani dengan penuh syukur dan sukacita.

Dalam masa Prapaskah ini, Gereja mengajak kita untuk membuka hati dan mendengarkan suara Yesus “Ikutlah Aku.” Ajakan ini hadir dalam pengalaman sehari-hari dan menuntun kita untuk melangkah di jalan pertobatan untuk semakin dekat kepada-Nya.

Doa:
Tuhan Yesus Kristus, berilah kami hati yang peka untuk mendengar panggilan-Mu. Teguhkanlah langkah dalam keseharian kami agar berani meninggalkan kebiasaan yang menjauhkan kami dari-Mu. Jadikanlah kami pengikut-Mu yang setia, yang siap melayani-Mu dalam hidup kami. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia