(Renungan) Rahmat Selalu Memberi Kesempatan Baru
Rahmat Selalu Memberi Kesempatan Baru
(Martha Maria Herina Tjahjadi)
(Martha Maria Herina Tjahjadi)
Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan seperti segala hal menjijikkan yang dilakukan oleh orang fasik, apakah ia akan hidup? Segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi. Ia harus mati karena ia berlaku tidak setia dan karena dosa yang dilakukannya.
(Yeh. 18:24)
Kalender Liturgi Jumat, 27 Februari 2026
Hari Biasa Pekan Prapaskah I
Bacaan Pertama: Yeh. 18:21-28
Mazmur Tanggapan: Mzm. 130:1-2.3-4ab.4c-6.7-8
Bacaan Injil: Mat. 5:20-26
Penulis drama dari Inggris, Oscar Wilde berkata, "Setiap orang suci memiliki masa lalu dan setiap pendosa memiliki masa depan. Hidup tidak ditentukan oleh masa lalu, namun oleh pilihan hati. Rahmat Allah akan selalu memberi masa depan, sementara kesetiaan akan menjaga arah perjalanan hidup yang telah dipilih.” Kalimat ini sebenarnya menghendaki kita sebagai murid Tuhan untuk selalu waspada dan melibatkan Tuhan dalam setiap waktu.
Bacaan Yehezkiel hari ini menampilkan kontras antara orang fasik dan orang benar. Orang fasik yang bertobat akan hidup, sedangkan orang benar yang berbalik dari kebenaran dapat binasa. Sabda ini bukan ancaman untuk menakut-nakuti, melainkan undangan untuk berjaga hati. Keselamatan bukan soal masa lalu, tetapi kesetiaan yang terus diperbarui. Kerendahan hati seperti yang ditulis Theresia Avilla menolong kita waspada, menyadari bahwa tanpa Tuhan kita mudah jatuh. Dalam kewaspadaan iman, kita diajak bertumbuh dan berjalan dalam terang Roh Kudus.
Di hari Natal 2025, ujian datang dalam kehidupan saya, saat hendak melakukan kebenaran dan melayani di ladang-Nya. Suami saya terkena strok setelah pulang dari acara keluarga. Tensi darahnya naik sampai 207 dan terjadi pemecahan pembuluh darah di otak bagian kiri. Sebagian tubuhnya melemah dan membutuhkan perawatan intensif. Dalam ketakutan dan kebingungan, saya bertanya, "Tuhan, apakah ini kehendak-Mu? Apakah ini ujian kesetiaan dalam pelayanan dan doa? Apakah sakit ini untuk menguji kesetiaan dan kesungguhan saya memberikan waktu, tenaga dalam pelayanan dan doa?"
Dalam doa sederhana saya menyerahkan semuanya, “Terjadilah pada kami seturut kehendak-Mu.” Saya memohon kekuatan, ketulusan, dan kesabaran bagi saya dan anak-anak. Hari demi hari kami belajar menjaga hati, memilih harapan, dan berjalan setia bersama Tuhan. Rahmat-Nya nyata melalui keluarga, sahabat, serta para terapis yang hadir menolong. Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa kewaspadaan iman bukan hidup dalam ketakutan, melainkan hidup sadar bahwa Tuhan menyertai setiap langkah kita.
Apakah kita sudah berjaga hati dan menggandeng Allah dalam setiap keputusan hidup kita?
Doa:
Ya Allah, ajarlah kami hidup setia dalam segala keadaan. Teguhkan hati kami untuk berjalan dalam kebenaran-Mu dan percaya bahwa rahmat-Mu selalu memberi masa depan. Dalam bimbingan Roh Kudus, melalui Yesus, jalan, kebenaran, dan hidup kami. Amin.
Doa:
Ya Allah, ajarlah kami hidup setia dalam segala keadaan. Teguhkan hati kami untuk berjalan dalam kebenaran-Mu dan percaya bahwa rahmat-Mu selalu memberi masa depan. Dalam bimbingan Roh Kudus, melalui Yesus, jalan, kebenaran, dan hidup kami. Amin.

Komentar
Posting Komentar