(Renungan) Salib Hari Ini, Rahmat Hari Ini

Salib Hari Ini, Rahmat Hari Ini
(Betsy Lilikwargawidjaja)

“Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”  
(Luk. 9:23)

Kalender Liturgi Kamis, 19 Februari 2025
Hari Kamis sesudah Rabu Abu
Bacaan Pertama: Ul.  30:15-20
Mazmur Tanggapan: Mzm. 1:1-2.3.4.6
Bacaan Injil: Luk. 9:22-25

Saat itu, anak saya sedang menghadapi kesulitan dalam simulasi tesisnya. Dengan suara pelan, ia berkata bahwa semuanya terasa seperti berjalan di tempat. Wajahnya menunjukkan keputusasaan yang sulit ia sembunyikan.

Setibanya di rumah, ia langsung membuka laptop dan bermain game, untuk melupakan keputusasaannya. Saya memahaminya, namun dengan suara lembut, saya mencoba menasehatinya agar mencoba kembali simulasinya dan membuat tanda salib sebelum mengerjakannya. Walau nampak kesal, ia mengikuti saran saya dan mulai mengerjakan tugasnya. Malam itu ia memang lelah. Namun, ada ketenangan baru di hatinya, karena ia tidak lari dari tanggung jawab. Ia tidak sadar bahwa di saat itulah ia sedang bertumbuh sebagai pribadi yang belajar setia dalam proses.

Dalam Injil Lukas 9:22–25, Yesus mengingatkan bahwa mengikuti Dia berarti siap memikul salib setiap hari. Salib bukan hanya penderitaan besar, tetapi juga hal-hal kecil yang menuntut kesabaran: mengalah, setia, jujur, dan tetap berbuat baik saat tidak dimengerti. Yesus sendiri menempuh jalan salib lebih dahulu. Ia tidak menjanjikan jalan yang mudah, tetapi menjanjikan hidup yang sejati. Yesus juga berkata, siapa yang ingin menyelamatkan hidupnya akan kehilangannya, tetapi siapa yang rela kehilangan hidupnya demi Dia, akan menyelamatkannya. Artinya, saat kita hanya mengejar kenyamanan dan kepentingan diri, kita justru kehilangan makna hidup. Sebaliknya, ketika kita berani memberi, mengampuni, dan berkorban, kita menemukan sukacita yang lebih dalam.

Renungan ini mengajak kita untuk tidak takut pada salib hari ini. Setiap kesulitan yang kita terima dengan kasih, Tuhan akan mengubahnya menjadi rahmat. Setiap air mata yang kita persembahkan, Tuhan pakai untuk menumbuhkan iman. Salib bukan akhir cerita, tetapi jalan menuju kebangkitan.

Doa:
Tuhan Yesus, ajarlah kami memikul salib kami hari ini dengan hati yang setia. Saat kami lelah, kuatkanlah. Saat kami ingin menyerah, ingatkanlah bahwa Engkau berjalan bersama kami. Ubahlah setiap kesulitan menjadi rahmat, dan setiap pengorbanan menjadi kasih. Semoga kami selalu memilih mengikuti-Mu, bukan kenyamanan diri. Amin.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia