(Renungan) Berjalan Bersama Yesus di Tengah Duka
Berjalan Bersama Yesus di Tengah Duka
(Juliana Santoso)
(Juliana Santoso)
“Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku, dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.”
(Luk. 11:23)
Kalender Liturgi Kamis, 12 Maret 2026
Hari Biasa Pekan Prapaskah III
Bacaan Pertama: Yer. 7:23-28
Mazmur Tanggapan: Mzm. 95:1-2.6-7.8-9
Bacaan Injil: Luk. 11:14-23
'Kehilangan' sering meninggalkan ruang kosong yang gelap di dalam hati. Empat tahun lalu, di tengah pandemi, aku kehilangan ayahku. Kami tinggal di kota yang berbeda dan jarang bertemu. Saat berita kepergiannya kudengar, aku bahkan tidak berada di Indonesia. Dunia seolah berhenti berputar, sebagian dari diriku ikut pergi bersamanya.
Penyesalan datang tanpa henti. Aku menyesal tidak sempat memeluknya di detik-detik terakhir. Aku menyesal karena ayahku baru menjadi Katolik di usia tuanya dan aku belum sempat mendampingi perjalanan imannya. Penyesalan itu begitu dalam. Aku sering datang ke makamnya, berbicara seolah ia ada, memintanya hadir walau hanya lewat mimpi. Ketika kupu-kupu masuk ke rumah, aku menganggap itu tanda kehadirannya. Malam-malam saat anjingku mengonggong, aku merasa ada bayangan ayah di dekatku. Tanpa sadar, rindu membuatku menunggu dan percaya bahwa ayahku akan hadir sebagai roh di sampingku, lalu aku bisa bercerita kepadanya tentang segala hal yang ingin kubagi.
Suatu hari, dalam pendalaman iman, romo menjelaskan bahwa iman Katolik tidak mengajarkan roh orang yang telah meninggal tinggal di sekitar kita (bdk. Ayub 7:9-10, 1Tes. 4:13-14). Bacaan Injil hari ini berkata bahwa Allah bekerja melalui terang dan kebenaran, bukan melalui kebingungan atau tanda-tanda yang menyesatkan. Yesus menegaskan tidak ada sikap netral dalam iman. “Siapa yang tidak bersama Aku, Ia melawan Aku.” (Luk. 11:23).
Sabda ini menyadarkanku, dalam duka, aku harus memilih berjalan bersama Yesus. Rindu dan kasih adalah anugerah, tetapi aku tidak perlu mencari kehadiran ayahku melalui tanda-tanda yang samar, melainkan memercayakan ayah sepenuhnya kepada Allah melalui doa. Tuhan tidak meminta kita melupakan orang yang kita kasihi, melainkan meminta kita menyerahkan mereka kepada-Nya. Dalam penyerahan itu, kesedihan berubah menjadi damai dan rindu menjadi kenangan penuh kasih. Aku percaya ayahku damai bersama-Nya di surga.
Sabda ini menyadarkanku, dalam duka, aku harus memilih berjalan bersama Yesus. Rindu dan kasih adalah anugerah, tetapi aku tidak perlu mencari kehadiran ayahku melalui tanda-tanda yang samar, melainkan memercayakan ayah sepenuhnya kepada Allah melalui doa. Tuhan tidak meminta kita melupakan orang yang kita kasihi, melainkan meminta kita menyerahkan mereka kepada-Nya. Dalam penyerahan itu, kesedihan berubah menjadi damai dan rindu menjadi kenangan penuh kasih. Aku percaya ayahku damai bersama-Nya di surga.
Hari ini kita diajak memilih, ketika 'kehilangan' dan 'luka' datang, kita berjalan dalam terang Yesus atau tenggelam dalam penyesalan?
Doa:
Tuhan Yesus, ajari kami untuk selalu bisa setia berjalan bersama terang-Mu. Dalam kehilangan dan duka, tuntunlah hati kami agar tidak tersesat dalam penyesalan atau mencari penghiburan yang keliru. Kami serahkan orang-orang yang kami kasihi ke dalam tangan-Mu. Sembuhkan penyesalan kami, pulihkan hati yang hancur dan tuntunlah kami berjalan bersama-Mu dalam iman dan pengharapan. Amin.
Doa:
Tuhan Yesus, ajari kami untuk selalu bisa setia berjalan bersama terang-Mu. Dalam kehilangan dan duka, tuntunlah hati kami agar tidak tersesat dalam penyesalan atau mencari penghiburan yang keliru. Kami serahkan orang-orang yang kami kasihi ke dalam tangan-Mu. Sembuhkan penyesalan kami, pulihkan hati yang hancur dan tuntunlah kami berjalan bersama-Mu dalam iman dan pengharapan. Amin.

Komentar
Posting Komentar