(Renungan) Bersungut-sungut
Bersungut-sungut
(A.M.A. Reni Utami)
Kalender Liturgi Minggu, 8 Maret 2026
Hari Minggu Prapaskah III
Bacaan Pertama: Kel 17:3-7
Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2.6-7.8-9
Bacaan Kedua: Rom 5:1-2.5-8
Bacaan Injil: Yoh 4:5-42
Bangsa Israel yang keluar dari tanah Mesir dan dipimpin oleh Musa, mengalami kesulitan yaitu kekurangan air di padang gurun. Meskipun mereka berjalan dalam lindungan dan penyertaan Tuhan melalui tiang awan di siang hari dan tiang api di malam hari, tetapi mereka tetap tidak puas dan tidak percaya akan penyertaan Tuhan saat mengalami kehausan.
Rasa haus membuat mereka menjadi tidak sabar dan menyalahkan Musa yang dianggap tidak bisa menyediakan air bagi mereka. Seolah-olah Musa membawa mereka keluar dari Mesir, bukan untuk menyelamatkan, tapi malah merancang untuk membinasakan mereka.
Saat anak-anak saya masih kecil, saya merasa sangat kerepotan. Tidak memiliki pembantu, membuat saya harus mengurus sendiri semua kebutuhan anak-anak. Pagi menyiapkan bekal makanan untuk ke sekolah, mengantar jemput sekolah dan kursus. Bahkan malam hari pun harus membantu mereka mengerjakan PR, memeriksa agenda mereka dan menemani belajar saat ada ulangan. Apalagi jika ujian semester tiba, makin merepotkan karena saya sendiri yang mengajar mereka untuk mempersiapkan semua mata pelajaran ujian.
Hal ini membuat saya seringkali bersungut-sungut karena kelelahan dan kehabisan waktu untuk diri sendiri. Saya melupakan anugerah Tuhan yang terbesar melalui kehadiran anak-anak saya. Seolah-olah dengan kehadiran anak-anak membuat saya terbelenggu dengan rutinitas harian yang tidak ada habis-habisnya dan sangat melelahkan.
Saya sangat bersyukur sekarang anak-anak sudah beranjak dewasa, dan mereka bisa hidup mandiri di luar kota. Kesulitan dan kerepotan yang saya alami di masa lalu membuat saya menyadari bahwa Tuhan selalu menyertai keluarga saya. Kesulitan, kelelahan dan keadaan yang tidak sesuai harapan seringkali membuat kita tidak sabar, marah dan bersungut-sungut. Manusia memang tidak ada puasnya. Saat keinginan tidak terpenuhi, dengan mudahnya menyalahkan orang lain, bahkan mempertanyakan di manakah Tuhan saat itu. Namun, tidak seperti bangsa Israel yang bersungut-sungut di padang gurun, kita diajak belajar mengelola kelelahan, kesulitan dan keluhan dengan mengarahkan hati kepada Tuhan serta mengucap syukur, sebab Tuhan senantiasa hadir dan setia menyertai.
Doa:
Bapa di surga, seringkali kami anak-anak-Mu bersungut-sungut dan meragukan penyertaan-Mu dengan melupakan berkat-berkat-Mu. Beri kami kesabaran dan kekuatan saat kami merasa diuji, agar kami senantiasa mempercayai janji-Mu bahwa rancangan-Mu adalah rancangan terbaik bagi kami. Amin.
(A.M.A. Reni Utami)
Di sana bangsa itu haus akan air. Bangsa itu bersungut-sungut kepada Musa dan berkata, “Mengapa engkau memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami, anak-anak kami dan ternak kami mati kehausan?”
(Kel. 17:3)
Hari Minggu Prapaskah III
Bacaan Pertama: Kel 17:3-7
Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2.6-7.8-9
Bacaan Kedua: Rom 5:1-2.5-8
Bacaan Injil: Yoh 4:5-42
Bangsa Israel yang keluar dari tanah Mesir dan dipimpin oleh Musa, mengalami kesulitan yaitu kekurangan air di padang gurun. Meskipun mereka berjalan dalam lindungan dan penyertaan Tuhan melalui tiang awan di siang hari dan tiang api di malam hari, tetapi mereka tetap tidak puas dan tidak percaya akan penyertaan Tuhan saat mengalami kehausan.
Rasa haus membuat mereka menjadi tidak sabar dan menyalahkan Musa yang dianggap tidak bisa menyediakan air bagi mereka. Seolah-olah Musa membawa mereka keluar dari Mesir, bukan untuk menyelamatkan, tapi malah merancang untuk membinasakan mereka.
Saat anak-anak saya masih kecil, saya merasa sangat kerepotan. Tidak memiliki pembantu, membuat saya harus mengurus sendiri semua kebutuhan anak-anak. Pagi menyiapkan bekal makanan untuk ke sekolah, mengantar jemput sekolah dan kursus. Bahkan malam hari pun harus membantu mereka mengerjakan PR, memeriksa agenda mereka dan menemani belajar saat ada ulangan. Apalagi jika ujian semester tiba, makin merepotkan karena saya sendiri yang mengajar mereka untuk mempersiapkan semua mata pelajaran ujian.
Hal ini membuat saya seringkali bersungut-sungut karena kelelahan dan kehabisan waktu untuk diri sendiri. Saya melupakan anugerah Tuhan yang terbesar melalui kehadiran anak-anak saya. Seolah-olah dengan kehadiran anak-anak membuat saya terbelenggu dengan rutinitas harian yang tidak ada habis-habisnya dan sangat melelahkan.
Saya sangat bersyukur sekarang anak-anak sudah beranjak dewasa, dan mereka bisa hidup mandiri di luar kota. Kesulitan dan kerepotan yang saya alami di masa lalu membuat saya menyadari bahwa Tuhan selalu menyertai keluarga saya. Kesulitan, kelelahan dan keadaan yang tidak sesuai harapan seringkali membuat kita tidak sabar, marah dan bersungut-sungut. Manusia memang tidak ada puasnya. Saat keinginan tidak terpenuhi, dengan mudahnya menyalahkan orang lain, bahkan mempertanyakan di manakah Tuhan saat itu. Namun, tidak seperti bangsa Israel yang bersungut-sungut di padang gurun, kita diajak belajar mengelola kelelahan, kesulitan dan keluhan dengan mengarahkan hati kepada Tuhan serta mengucap syukur, sebab Tuhan senantiasa hadir dan setia menyertai.
Doa:
Bapa di surga, seringkali kami anak-anak-Mu bersungut-sungut dan meragukan penyertaan-Mu dengan melupakan berkat-berkat-Mu. Beri kami kesabaran dan kekuatan saat kami merasa diuji, agar kami senantiasa mempercayai janji-Mu bahwa rancangan-Mu adalah rancangan terbaik bagi kami. Amin.

Komentar
Posting Komentar