(Renungan) Cawan Kepemimpinan Kristiani

Cawan Kepemimpinan Kristiani
(Ery Dewanti)

Namun, Yesus menjawab, kata-Nya, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum dari cawan yang akan Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya, “Kami dapat.” 
(Mat. 20:22) 

Kalender Liturgi Rabu, 4 Maret 2026
Hari Biasa Pekan Prapaskah II
Bacaan Pertama: Yer. 18:18-20
Mazmur Tanggapan: Mzm. 31:5-6.14.15-16
Bacaan Injil: Mat. 20:17-28

Dalam Injil hari ini, Yesus menanggapi kekecewaan para murid yang tersinggung oleh permintaan Yakobus dan Yohanes. Peristiwa ini menunjukkan bahkan murid terdekat Yesus pun masih membawa ambisi untuk dihormati dan dianggap besar. Namun Yesus tidak menegur mereka dengan kemarahan. Ia memanfaatkan momen itu untuk mengajarkan inti kepemimpinan Kristiani.

Yesus mengontraskan cara dunia memandang kekuasaan dengan cara Allah memandang kebesaran. Dunia menganggap pemimpin sebagai sosok yang memerintah dan dilayani. Tetapi Yesus membalikkan logika itu. Dalam Kerajaan Allah, yang terbesar adalah mereka yang bersedia menjadi pelayan; yang pertama adalah mereka yang rela mengambil tempat paling rendah. Kebesaran tidak ditentukan oleh jabatan, tetapi oleh kerelaan hati untuk mengasihi dan melayani tanpa pamrih.

Setiap tindakan Yesus, merendahkan diri, menyentuh yang hina, menguatkan yang jatuh, hingga menyerahkan nyawa-Nya, bukan pencitraan, melainkan itulah jati diri-Nya sebagai ‘pelayan’. Itulah sebabnya Ia berkata bahwa Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan. Pelayanan bagi Yesus bukan sekadar tindakan, tetapi identitas. Ia mengajak para murid-Nya untuk memiliki hati yang sama: melayani bukan karena dilihat orang, tetap setia meski tidak dihargai, dan melayani karena itu panggilan.
 

Saya teringat pada teman saya, Adisty. Seorang manajer senior yang memimpin tim yang sebagian besar beranggotakan orang-orang muda dengan karakter yang sering membuat luka di hatinya karena sikap mereka, kesombongan, prasangka buruk, dan sikap defensif. Ia kerap dihormati karena jabatan, tetapi tidak dihargai sebagai manusia. Namun Adisty memilih untuk tetap melayani timnya. Ia memilih diam bukan karena lemah, tetapi untuk menjaga hati dan menapaki jalan pengorbanan seperti yang diteladankan Yesus. Ia memilih untuk ‘meminum cawan’ yang tersaji di depannya setiap hari.

Pertanyaannya, apakah saya berani meminum cawan itu dalam hidup saya? 

Doa:
Tuhan, bimbing aku meneladani-Mu: rela melayani, rendah hati, setia dalam tugas, dan penuh kasih. Amin.




 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia