(Renungan) Dekat dengan Yesus, Jauh dari Ketidaktaatan
Dekat dengan Yesus, Jauh dari Ketidaktaatan
(Juwati Darmawidjaja)
(Juwati Darmawidjaja)
Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu berkata, ”Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya, ”Engkau telah mengatakannya.”
(Mat. 26:25)
Kalender Liturgi Rabu, 1 April 2026
Hari Rabu dalam Pekan Suci
Bacaan Pertama: Yes. 50:4-9a
Mazmur Tanggapan: Mzm. 69:8-10.21bcd-22.31.33-34
Bacaan Injil: Mat. 26:14-25
Bacaan Pertama: Yes. 50:4-9a
Mazmur Tanggapan: Mzm. 69:8-10.21bcd-22.31.33-34
Bacaan Injil: Mat. 26:14-25
Beberapa tahun terakhir ini, kita sering membaca berita tentang pegawai yang membocorkan rahasia perusahaan demi uang; pejabat yang menerima suap dari pihak yang seharusnya ia awasi; atau rekan pelayanan yang menyalahgunakan dana dan wewenang demi keuntungan pribadi. Ironisnya, banyak dari mereka adalah orang dalam. Pengkhianatan dimulai dari kompromi kecil hingga akhirnya mengalahkan suara hati.
Injil hari ini membawa kita ke ruang perjamuan terakhir, di mana Yesus mengungkapkan kenyataan pahit: “Salah seseorang dari antara kamu akan menyerahkan Aku.” (Mat. 26:21b). Bukan musuh di luar, melainkan seorang dari dalam lingkaran para murid.
Para murid satu per satu bertanya dengan gelisah, “Bukan aku, ya Tuhan?” (Mat. 26:22b). Sapaan ini mengungkapkan kerendahan hati. Mereka menyebut Yesus Tuhan, mengakui kuasa-Nya atas hidup mereka, dan menyadari kerapuhan diri. Namun Injil mencatat perbedaan yang mencolok ketika Yudas berbicara. Ia bertanya, “Bukan aku, ya Rabi?” (Mat. 26:25a). Yudas tidak lagi menyebut Yesus sebagai Tuhan, melainkan hanya sebagai guru. Inilah tanda bahwa pengkhianatan sudah lebih dulu terjadi di dalam hati.
Rabu Pekan Suci juga disebut Rabu pengkhianatan. Gereja tidak menampilkan kisah ini untuk mengutuk Yudas, melainkan untuk mengajak setiap orang bercermin. Kita pun bisa berada sangat dekat dengan Yesus, hadir dalam liturgi, aktif dalam pelayanan, namun hati kita tidak sepenuhnya tunduk pada-Nya. Ketika Yesus tidak lagi kita taati sebagai Tuhan, tetapi hanya kita dengarkan sebagai nasihat, saat itulah iman mulai retak.
Yesus mengetahui pengkhianatan itu, tetapi Ia tetap setia. Ia tidak membatalkan perjamuan, tidak menarik kembali kasih-Nya. Dalam terang iman Katolik, perjamuan ini mengarah pada Ekaristi. Yesus tetap menyerahkan diri-Nya, bahkan kepada murid yang akan menyerahkan Dia. Kasih-Nya melampaui dosa manusia.
Gereja mengajak kita untuk memeriksa batin. Di hadapan salib yang semakin dekat, kita diajak untuk bertobat. ”Apakah aku sungguh mengakui Yesus sebagai Tuhan dalam keputusan-keputusan hidupku?” Ataukah aku hanya memanggil-Nya 'Rabi' ketika kehendak-Nya tidak sejalan dengan keinginanku?
Doa:
Tuhan Yesus, di hadapan sengsara-Mu kami menyadari kerapuhan kami. Sering kali kami memanggil nama-Mu, tetapi belum sungguh menaati kehendak-Mu. Terimalah pertobatan kami dan mampukan kami mengakui Engkau sebagai Tuhan dalam seluruh hidup kami. Amin.

Komentar
Posting Komentar