(Renungan) Kasih yang Nyata

Kasih yang Nyata
(Johanes Williatmo Tantra)

Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan diberi tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan diberi tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga.
(Mat. 5:19)

Kalender Liturgi Rabu, 11 Maret 2026
Hari Biasa Pekan Prapaskah III
Bacaan Pertama: Ul. 4:1.5-9
Mazmur Tanggapan: Mzm. 147:12-13.15-16.19-20
Bacaan Injil: Mat. 5:17-19

Dalam bacaan Injil, Yesus menegaskan bahwa kedatangan-Nya bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya. Ia tidak hanya menyoroti tindakan lahiriah semata, tetapi terutama makna terdalam dari hukum itu sendiri. Hukum Taurat berasal dari Allah, dan inti terdalamnya adalah kasih. Karena itu, Yesus menekankan bahwa siapa pun yang meremehkan, bahkan perintah yang paling kecil dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, akan mendapat tempat paling rendah dalam Kerajaan Surga. Sebaliknya, mereka yang melakukan dan mengajarkannya akan mendapat tempat yang tinggi.

Penegasan Yesus ini mengingatkan kita bahwa ketaatan sejati bukanlah sekadar kepatuhan harfiah, melainkan perwujudan kasih yang nyata kepada sesama. Bersumber dari hati dan berdampak pada relasi kita dengan Allah. Kasih bukan hanya konsep, tetapi tindakan konkret yang menghadirkan kebaikan, pengampunan, dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.

Saya bersyukur memiliki kedua orang tua yang selalu menanamkan nilai untuk tidak berbuat jahat kepada orang lain, mau mengampuni, mengalah, dan menolong tanpa pamrih. Walaupun almarhum papa bukan seorang yang mengenal Tuhan Yesus secara pribadi, dalam hidupnya ia banyak melakukan perbuatan kasih. Hal itu sering kami dengar dari orang-orang yang pernah merasakan kebaikannya. Teladan hidup mereka mengajarkan bahwa kasih yang sejati selalu tampak dalam tindakan nyata.

Pertanyaan refelektif bagi saya pribadi, apakah saya yang sudah mengenal Tuhan Yesus, sudah melakukan perbuatan kasih yang konkret kepada sesama dengan tanpa pamrih? 

Pertanyaan ini terus bergema dalam hati saya: sebagai orang yang telah mengenal Tuhan Yesus, sudahkah kasih itu sungguh nyata dalam hidup saya? Apakah saya mudah mengampuni ketika disakiti, tetap berbuat baik ketika tidak dihargai, dan menolong tanpa menghitung untung rugi? Jangan-jangan saya hanya mengenal ajaran tentang kasih, tetapi belum sepenuhnya menghidupinya. Kiranya setiap hari saya belajar menjadikan kasih bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata yang bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitar saya.

Doa:
Allah Bapa yang penuh kasih, berilah kepada kami hati untuk selalu bersyukur atas kasih-Mu kepada kami. Mampukan kami untuk selalu mengampuni, melupakan orang yang bersalah terhadap kami, dan karuniakan kami hati yang senantiasa mengasihi-Mu dan sesama kami. Amin. 



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia