(Renungan) Kematian Bukanlah Titik, melainkan Koma bagi Orang Percaya
Kematian Bukanlah Titik, melainkan Koma bagi Orang Percaya
(Ign. Hardjo Subroto Lilik)
Kalender Liturgi Kamis, 26 Maret 2026
Hari Biasa Pekan Prapaskah V
Bacaan Pertama: Kej. 17:3-9
Mazmur Tanggapan: Mzm. 105:4-5.6-7.8-9
Bacaan injil: Yoh. 8:51-59
Saat itu sebuah stadion besar penuh sesak dengan ribuan orang berteriak menuntut kematian seorang kakek berusia 86 tahun. Orang itu adalah Polikarpus, Uskup Gereja Smirna. Ia dikenal keteguhannya melawan ajaran sesat saat itu. Dia ditangkap, diikat pada tiang dan diancam akan dibakar agar menyangkal imannya. Di hadapannya, gubernur Romawi itu memberikan pilihan terakhir: ”Hujatlah Kristus, maka kamu akan kubebaskan.” Dari tiang pembakaran, dengan wajah tenang, Polikarpus menjawab, “Delapan puluh enam tahun aku telah melayani-Nya dan Ia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin aku menghujat Rajaku yang telah menyelamatkanku?” Ia dibakar, namun api tidak menghanguskannya, sehingga algojo menikamnya dengan belati. Maut yang mencoba mengintimidasi Polikarpus dengan rasa sakit dan api telah gagal. Polikarpus tidak melihat maut sebagai sesuatu yang menakutkan. Firman yang ia turuti dan tekuni memberinya kekuatan dalam menghadapi ketakutan akan kematian. Seperti janji Yesus, mata rohani Polikarpus melihat pesta perjamuan yang sudah menantinya daripada kengerian api di tengah stadion itu.
Inilah yang dimaksud Yesus, Polikarpus tidak mengalami maut, tapi ia mengalami kepulangan. Karena ia menuruti firman-Nya, maut tidak punya kuasa untuk menakutinya lagi. Yesus tidak menjanjikan bahwa tubuh fisik kita tidak akan menua dan mati. Setiap manusia akan mengalami kematian fisik seperti juga Abraham dan para nabi. Namun, Yesus tidak membicarakan tentang maut yang menyebabkan kematian fisik. Tidak mengalami maut yang dimaksud Yesus adalah jiwa kita tidak akan binasa atau terpisah dari kasih Allah. Bagi orang yang memegang teguh firman-Nya, kematian jasmani tidak lagi dianggap sebagai maut yang mengerikan, melainkan transisi menuju kesempurnaan hidup bersama Allah. Inilah penyebab kemarahan orang Yahudi (Yoh. 8:52). Mereka berpikir secara horizontal, yaitu kematian secara biologis. Sedangkan Yesus berbicara secara vertikal, yaitu secara spiritual, kehidupan kekal yang tidak bisa dikalahkan oleh maut. Seperti dikatakan-Nya: …. selama-lamanya.
Kematian bukanlah titik, melainkan koma bagi orang percaya dan memegang teguh firman-Nya.
Doa:
Tuhan Yesus, kami bersyukur atas janji-Mu yang meneguhkan, bahwa barang siapa menuruti firman-Mu ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Tanamkanlah firman-Mu dalam-dalam di hati kami. Berikanlah kami kekuatan dan kesetiaan untuk melakukannya dalam setiap langkah hidup kami. Biarlah damai sejahtera-Mu yang meraja di hati kami. Bersama-Mu kematian hanyalah pintu menuju kehidupan kekal. Amin.
(Ign. Hardjo Subroto Lilik)
“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.”
(Yoh. 8:51)
Hari Biasa Pekan Prapaskah V
Bacaan Pertama: Kej. 17:3-9
Mazmur Tanggapan: Mzm. 105:4-5.6-7.8-9
Bacaan injil: Yoh. 8:51-59
Saat itu sebuah stadion besar penuh sesak dengan ribuan orang berteriak menuntut kematian seorang kakek berusia 86 tahun. Orang itu adalah Polikarpus, Uskup Gereja Smirna. Ia dikenal keteguhannya melawan ajaran sesat saat itu. Dia ditangkap, diikat pada tiang dan diancam akan dibakar agar menyangkal imannya. Di hadapannya, gubernur Romawi itu memberikan pilihan terakhir: ”Hujatlah Kristus, maka kamu akan kubebaskan.” Dari tiang pembakaran, dengan wajah tenang, Polikarpus menjawab, “Delapan puluh enam tahun aku telah melayani-Nya dan Ia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin aku menghujat Rajaku yang telah menyelamatkanku?” Ia dibakar, namun api tidak menghanguskannya, sehingga algojo menikamnya dengan belati. Maut yang mencoba mengintimidasi Polikarpus dengan rasa sakit dan api telah gagal. Polikarpus tidak melihat maut sebagai sesuatu yang menakutkan. Firman yang ia turuti dan tekuni memberinya kekuatan dalam menghadapi ketakutan akan kematian. Seperti janji Yesus, mata rohani Polikarpus melihat pesta perjamuan yang sudah menantinya daripada kengerian api di tengah stadion itu.
Inilah yang dimaksud Yesus, Polikarpus tidak mengalami maut, tapi ia mengalami kepulangan. Karena ia menuruti firman-Nya, maut tidak punya kuasa untuk menakutinya lagi. Yesus tidak menjanjikan bahwa tubuh fisik kita tidak akan menua dan mati. Setiap manusia akan mengalami kematian fisik seperti juga Abraham dan para nabi. Namun, Yesus tidak membicarakan tentang maut yang menyebabkan kematian fisik. Tidak mengalami maut yang dimaksud Yesus adalah jiwa kita tidak akan binasa atau terpisah dari kasih Allah. Bagi orang yang memegang teguh firman-Nya, kematian jasmani tidak lagi dianggap sebagai maut yang mengerikan, melainkan transisi menuju kesempurnaan hidup bersama Allah. Inilah penyebab kemarahan orang Yahudi (Yoh. 8:52). Mereka berpikir secara horizontal, yaitu kematian secara biologis. Sedangkan Yesus berbicara secara vertikal, yaitu secara spiritual, kehidupan kekal yang tidak bisa dikalahkan oleh maut. Seperti dikatakan-Nya: …. selama-lamanya.
Kematian bukanlah titik, melainkan koma bagi orang percaya dan memegang teguh firman-Nya.
Doa:
Tuhan Yesus, kami bersyukur atas janji-Mu yang meneguhkan, bahwa barang siapa menuruti firman-Mu ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Tanamkanlah firman-Mu dalam-dalam di hati kami. Berikanlah kami kekuatan dan kesetiaan untuk melakukannya dalam setiap langkah hidup kami. Biarlah damai sejahtera-Mu yang meraja di hati kami. Bersama-Mu kematian hanyalah pintu menuju kehidupan kekal. Amin.

Komentar
Posting Komentar