(Renungan) Kepada-Mulah Kuserahkan Perkaraku

Kepada-Mulah Kuserahkan Perkaraku 
(Eviantine Evi Susanto)
 
“Namun, ya Tuhan Semesta Alam,Tetapi, yang menghakimi dengan adil, menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kubuka perkaraku.” 
(Yer. 11:20)
 
Kalender Liturgi Sabtu, 21 Maret 2026
Hari Biasa Pekan Prapaskah IV
Bacaan Pertama: Yer. 11:18-20
Mazmur Tanggapan: Mzm. 7:2-3.9bc-10.11-12
Bacaan Injil: Yoh. 7: 40-53
 
Namun, Tuhan Semesta Alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kubuka perkaraku.” (Yer. 11:20) 

Ayat ini terdengar tegas, bahkan getir. Namun, di baliknya tersimpan satu keputusan rohani: melepaskan 'hak membalas', lalu menyerahkan perkara kepada Hakim yang adil. Ketika luka dipelihara, hati mudah menjadi ruang sidang yang dipenuhi tuntutan. Tetapi ketika perkara diletakkan di tangan Tuhan, jiwa mulai menemukan napas ketenangan. Sering kali damai lahir saat kita berhenti menuntut kemenangan dan hati pun belajar bernapas lega.

Seorang teman pernah bercerita tentang ketidakadilan di keluarga besar. Saat ibu mertuanya mendadak sakit parah dan membutuhkan perawatan penuh, kakak-kakak iparnya beralasan tidak sanggup dan perlahan mendorong semua tanggung jawab kepadanya. Ia merawat tanpa banyak protes. Hampir setahun kemudian, sang ibu pulih dan kembali beraktivitas. Teman saya berharap kini giliran bisa bergantian menjaga. Namun, ketika ia mengusulkan jadwal, ia justru dituduh tidak berperasaan dan dianggap jahat.

Di titik itu saya mengajaknya tidak membalas dengan kata-kata tajam. Kami berdoa, meminta hikmat untuk bersikap, memohon pengampunan bagi diri sendiri, dan memberkati mereka yang melukai. Memaafkan tidak selalu berarti setuju atau melupakan. Memaafkan berarti melepaskan racun dendam agar hati tetap utuh.

Menyerahkan perkara juga bukan berarti pasif. Kita tetap dapat menyampaikan batasan, mengajak dialog, dan mencari jalan yang adil-tanpa mengusung dendam. Di sanalah iman menjadi konkret: memilih tenang, bukan karena lemah, melainkan karena percaya Tuhan memegang kendali.

Dalam Pekan Prapaskah IV, Tuhan mengundang kita menaruh perkara di hadapan-Nya. Ia mengenal batin dan hati; Ia bertindak tepat pada waktunya. Tuhan, terima kasih, hanya kepada-Mulah kuserahkan perkaraku. 

Pertanyaannya: perkara apa yang masih Anda genggam dan beranikah Anda menyerahkannya kepada Tuhan hari ini?

Doa:
Tuhan, terima kasih atas segala perkara yang Kauizinkan terjadi dalam hidupku. Mampukan aku menjalaninya sesuai kehendak-Mu. Ajari aku mengampuni tanpa membalas dan tetap setia melakukan yang baik. Ke dalam penyelenggaraan-Mu kuserahkan hidupku. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia