(Renungan) Membuka Hati dan Percaya kepada Allah
Membuka Hati dan Percaya kepada Allah
(Theresia M. M. Inaesih)
(Theresia M. M. Inaesih)
Kata-Nya lagi,”Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Tidak ada nabi yang diterima di kampung halamannya.”
(Luk.4:24)
Kalender Liturgi Senin, 9 Maret 2026
Hari Biasa Pekan Prapaskah III
Bacaan Pertama: 2Raj. 5:1-15a
Mazmur Tanggapan: Mzm. 42:2.3;43:3.4
Bacaan Injil: Luk. 4:24-30
Dalam Injil Lukas hari ini dikisahkan bagaimana Yesus tidak dihargai di tempat asal-Nya, yaitu Nazaret. Awalnya orang Nazaret kagum mendengar pengajaran Yesus di rumah ibadat, namun ketika mereka menyadari bahwa Yesus adalah anak Yusuf, tukang kayu, mereka langsung meragukan dan mencibir Yesus. Mereka menutup hati dan tidak percaya; Yesus yang mereka rasa kenal itu kok mampu mengajar dengan perkataan penuh rahmat?
Bacaan Pertama: 2Raj. 5:1-15a
Mazmur Tanggapan: Mzm. 42:2.3;43:3.4
Bacaan Injil: Luk. 4:24-30
Dalam Injil Lukas hari ini dikisahkan bagaimana Yesus tidak dihargai di tempat asal-Nya, yaitu Nazaret. Awalnya orang Nazaret kagum mendengar pengajaran Yesus di rumah ibadat, namun ketika mereka menyadari bahwa Yesus adalah anak Yusuf, tukang kayu, mereka langsung meragukan dan mencibir Yesus. Mereka menutup hati dan tidak percaya; Yesus yang mereka rasa kenal itu kok mampu mengajar dengan perkataan penuh rahmat?
Mereka bukan saja tidak percaya, tapi juga marah, bahkan ingin membunuh Yesus ketika Ia mengingatkan ketidakpercayaan nenek moyang mereka di zaman Nabi Elia dan Nabi Elisa. Pada saat itu mukjizat terjadi kepada seorang janda di Sarfat dan seorang panglima, Na’aman. Keduanya adalah orang non-Yahudi, yang mau membuka hati dan percaya, sehingga mukjizat terjadi. Menolak Yesus, seperti orang Nazaret tersebut, berakibat hilanglah kesempatan Roh Allah berkarya.
Belajar dari perikop ini, keterbukaan hati akan menimbulkan iman dan percaya yang mendatangkan rahmat Tuhan. Selain itu, kita dapat melihat dan mendengar lebih jernih; sehingga mampu menghargai orang lain, mudah mengucap syukur, dan menghalau amarah yang biasanya akan membawa kita semakin jauh dari ajaran dan kasih Tuhan.
Seorang teman pernah memiliki pengalaman merasa terasing dari keluarganya. Hal ini terjadi karena ia melakukan kesalahan yang membuat seluruh keluarganya malu. Saat ia sungguh-sungguh menyadari kesalahannya dan berubah, keluarganya tidaklah mudah untuk langsung memercayai dan menerimanya. Hanya dengan pertolongan rahmat Tuhan dan keterbukaan hati, teman saya dapat melalui semua proses itu dengan sabar. Ia bahkan bisa bersyukur telah diberi kesempatan untuk hidup baru. Di kemudian hari, pihak keluarganya juga diberi rahmat mau mengampuni dengan tulus dan kasih, sehingga damai sejahtera sebagai keluarga utuh kembali.
Mari kita belajar terbuka dan menerima Yesus dalam hati kita, agar rahmat-Nya yang ajaib menjadikan kita semakin percaya akan karya penyelenggaraan-Nya yang memberi keselamatan untuk semua orang yang percaya!
Doa:
Bapa di dalam surga, penuhi kami dengan rahmat-Mu agar kami dimampukan untuk memiliki keterbukaan hati dan percaya, sehingga rahmat-Mu boleh bekerja melalui kami untuk semakin peduli dan belajar menghargai sesama, penuh pengampunan dan tidak mudah menghakimi. Doa ini kami panjatkan dengan perantaraan Yesus, Tuhan dan Juru Selamat kami, Amin.

Komentar
Posting Komentar