(Renungan) Menanggapi Sabda

Menanggapi Sabda
(Carla Claresta)

Kata Yesus kepadanya, ”Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya kepada perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.
(Yoh. 4:50)

Kalender Liturgi Senin, 16 Maret 2026
Hari Biasa Pekan Prapaskah IV
Bacaan  Pertama: Yes. 65:17-21
Mazmur Tanggapan: Mzm. 30:2.4.5-6.11-12a.13b
Bacaan Injil: Yoh. 4:43-54

Peristiwa air menjadi anggur pada perjamuan perkawinan di Kana, yang terletak di sebelah utara Galilea tentu sudah tersebar ke kota-kota tetangga, termasuk Kapernaum yang berada di pesisir Danau Galilea, sekitar 30 km dari Kana yang terletak di daerah pegunungan. 
Di Kapernaum ada seorang pegawai istana yang anak laki-lakinya sedang sakit. Perjalanan dari Kapernaum ke Kana memerlukan waktu 1,5-2 hari jika ditempuh dengan berjalan kaki, atau 4-5 jam jika berkuda. Pegawai istana itu menempuh perjalanan panjang demi kesembuhan anaknya. Dengan kerendahan hati, ia memohon agar Yesus datang ke Kapernaum sebelum anaknya mati. Kata 'datanglah' menjadi permohonan penuh harapan agar  Yesus mengabulkan permintaannya. 

Namun Yesus tidak  menuruti permintaan tersebut. Ia hanya berkata: ”Pergilah, anakmu hidup!” Pegawai itu percaya pada perkataan Yesus, lalu pulang. Karena imannya, ia menanggapi Sabda dengan menuruti perintah Yesus untuk pergi, meskipun sebelumnya ia meminta Yesus datang. Sabda memerlukan respons agar dapat bekerja dalam diri manusia. Pegawai itu membuka hati dan memberi kesempatan kepada Yesus untuk berkarya bagi keselamatan anaknya melalui 'penyembuhan jarak jauh'. Yesus hanya berbicara, dan perkataan-Nya memberi kehidupan bagi anak yang hampir mati itu.

Pada tahun 2019-2022 dunia dilanda penyakit menular, Covid-19. Keadaan mencekam, setiap hari ratusan orang meninggal. Hampir semua negara memberlakukan lockdown, menghentikan hampir seluruh sektor kehidupan: perekonomian, industri hingga melarang orang keluar rumah kecuali untuk hal yang sangat penting. Rumah ibadat pun membatasi aktivitas rutin keagamaan; hanya sedikit umat yang diizinkan hadir untuk mencegah korban semakin banyak. 

Akhirnya, Gereja mengambil keputusan untuk menayangkan Misa secara daring. Banyak umat yang merindukan Ekaristi mendapat kelegaan. Mereka terharu, bahkan menangis, ketika mendengar sabda Tuhan yang menyejukkan hati. Doa mereka seakan bergema: “Ya Bapa, bersabdalah saja maka saya akan sembuh.”

Iman bertumbuh tanpa harus bertemu Yesus secara fisik; yang diperlukan adalah kesediaan kita untuk mendengarkan sabda-Nya yang penuh kuasa dan menanggapi-Nya dengan percaya. Dengan demikian, kita memberi kesempatan kepada Sang Sabda untuk berkarya dan bertindak dalam kehidupan kita yang percaya kepada-Nya.

Doa:
Allah Yang Maha Kasih, kami tahu Engkau selalu hadir dalam diri kami. Bantu kami untuk rendah hati datang kepada-Mu, terbuka dan menanggapi sabda-Mu untuk menyembuhkan segala luka. Amin.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia