(Renungan) Mengasihi Sesama seperti Diri Sendiri

Mengasihi Sesama seperti Diri Sendiri
(Verena Istudiyanti Priatmi)

"Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya."
(Mrk. 12:33)

Kalender Liturgi Jumat, 13 Maret 2026
Hari Biasa Pekan Prapaskah III
Bacaan Pertama: Hos.14:2-10
Mazmur Tanggapan: Mzm.81:6c-8a.8bc-9.10-11ab.14.17
Bacaan Injil: Mrk. 12:28b-34

Mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah inti hukum yang diajarkan Yesus. Hukum ini menjadi yang terutama dan berlaku universal. Kasih sejati tidak berhenti pada kata-kata atau ritual, melainkan nyata dalam cara kita memperlakukan mereka yang lemah, miskin, tersingkir, dan terluka. Kasih kepada sesama tercermin dalam sikap kita terhadap orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung kita, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan atau disabilitas.

Di era modern ini, kita sering mendengar nasihat “Jauhi orang toxic yang bikin hidupmu susah, karena bisa memengaruhi fisik dan mentalmu!” Nasihat ini seolah menjadi prinsip hidup yang banyak dipegang, terutama ketika relasi terasa melelahkan dan penuh beban emosional.

Hal serupa dialami oleh Wita, seorang pegawai swasta yang kerap menjadi tempat curhat Della, sahabatnya sejak SMP dan SMA. Della berasal dari keluarga broken home. Ibunya mengalami tekanan berat hingga tidak dapat menjalankan peran sebagai ibu dengan baik, sementara ayahnya sangat sibuk sebagai direktur sebuah perusahaan.

Hampir setiap hari, Della, yang bekerja sebagai karyawati sebuah bank, mencurahkan keluh kesahnya kepada Wita. Mulai dari persoalan keluarga hingga relasi dengan pacarnya, Dion. Dion memilih berhenti kuliah dan mencoba berwirausaha, sering berganti-ganti usaha, hingga menguras keuangan orang tuanya. Semua ini membuat Della semakin tertekan. Bagi sebagian orang, kondisi seperti ini cukup untuk memberi label 'toxic' dan menjadi alasan untuk menjauh.

Namun, Wita memilih menjadi pendengar yang setia dan berusaha memberi solusi sebisanya. Wita bersyukur atas berbagai kesempatan dan keberuntungan yang ia terima dalam hidup. Lalu tumbuh tekad untuk terus membantu sahabatnya. Ia percaya bahwa kebaikan tidak pernah sia-sia; kebaikan menular dan mampu menginspirasi sesama.

Pendampingan terhadap mereka yang kurang beruntung, tanpa mengharap balasan akan kebaikan kita, merupakan wujud nyata pelaksanaan hukum kedua yang diajarkan Yesus. Memang, hal ini tidak mudah. Namun, kita dapat memulainya dengan sebuah pertanyaan “Bagaimana jika aku berada di posisinya?” Sehingga, empati bertumbuh dan relasi dimurnikan oleh kasih.

Doa:
Tuhan Yang Maha Baik, terima kasih atas keberuntungan dan kesempatan yang telah kami terima dalam hidup. Kami tahu Engkau pun mengasihi mereka yang tidak beruntung. Berilah kami kekuatan untuk mendampingi dan mengasihi mereka, sebagaimana kami mengasihi diri kami sendiri. Amin. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia