(Renungan) Menistakan Bapa? Mana Mungkin?
Menistakan Bapa? Mana Mungkin?
Kalender Liturgi Jumat, 27 Maret 2026
Hari Biasa Pekan Prapaskah V
Bacaan Pertama: Yer. 20: 10-13
Mazmur Tanggapan: Mzm. 18:2-3a.3bc-4.5-6.7
Bacaan Injil: Yoh. 10: 31-42
Serangan kepada Yesus dilancarkan pada Hari Raya Penahbisan Bait Allah di Yerusalem. Orang-orang Yahudi sudah menyiapkan batu untuk merajam Yesus, sambil resah menunggu jawaban Yesus, apakah Dia benar-benar Mesias. Yesus tahu bahwa dengan menjawab, “Aku dan Bapa adalah satu” akan menjadi legitimasi untuk membunuh-Nya. Lalu Yesus memberi argumen, pertama-tama bukan untuk orang-orang Yahudi yang degil, namun sebagai pengajaran kepada para murid-Nya.
Pertama, Yesus menegaskan bahwa karya-karya-Nya berasal dari Bapa-Nya, karena dilakukan bukan dengan cara biasa, tetapi dengan kuasa Ilahi. Apakah manusia biasa, bisa membuat mukjizat yang tidak hanya luar biasa, tetapi penuh kebaikan? Yesus meminta orang Yahudi untuk mempercayai karya-Nya, karena mereka bisa melihatnya dan bisa menalarnya. Yesus membuka pilihan karena Yesus tidak meminta iman yang membabi buta.
(Dewi Mulyati S.)
Jawab orang-orang Yahudi itu, “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah
dan karena Engkau, seorang manusia, menjadikan diri-Mu Allah”
(Yoh. 10:33)
Kalender Liturgi Jumat, 27 Maret 2026
Hari Biasa Pekan Prapaskah V
Bacaan Pertama: Yer. 20: 10-13
Mazmur Tanggapan: Mzm. 18:2-3a.3bc-4.5-6.7
Bacaan Injil: Yoh. 10: 31-42
Mendapat tuduhan menista suatu kepercayaan, pasti membuat hati jengah. Tidak hanya karena konsekuensi hukum, tetapi juga takut akan keterlibatan emosi massa. Yesus dituduh menista Allah. Yesus tahu bahwa tuduhan penistaan ini direkayasa oleh pemuka-pemuka agama Yahudi sebagai legitimasi untuk melenyapkan-Nya. Hati para pemuka agama Yahudi ini panas karena pengikut Yesus semakin banyak.
Serangan kepada Yesus dilancarkan pada Hari Raya Penahbisan Bait Allah di Yerusalem. Orang-orang Yahudi sudah menyiapkan batu untuk merajam Yesus, sambil resah menunggu jawaban Yesus, apakah Dia benar-benar Mesias. Yesus tahu bahwa dengan menjawab, “Aku dan Bapa adalah satu” akan menjadi legitimasi untuk membunuh-Nya. Lalu Yesus memberi argumen, pertama-tama bukan untuk orang-orang Yahudi yang degil, namun sebagai pengajaran kepada para murid-Nya.
Pertama, Yesus menegaskan bahwa karya-karya-Nya berasal dari Bapa-Nya, karena dilakukan bukan dengan cara biasa, tetapi dengan kuasa Ilahi. Apakah manusia biasa, bisa membuat mukjizat yang tidak hanya luar biasa, tetapi penuh kebaikan? Yesus meminta orang Yahudi untuk mempercayai karya-Nya, karena mereka bisa melihatnya dan bisa menalarnya. Yesus membuka pilihan karena Yesus tidak meminta iman yang membabi buta.
Yang kedua, Yesus sengaja mengutip Kitab Suci di mana disebutkan “Mereka, kepada siapa Firman itu disampaikan, disebut Allah.” Seperti mereka, bukankah Yesus juga bisa mengklaim sebagai 'Allah' seperti tertulis dalam Kitab Suci itu.
Sama seperti orang Yahudi yang menuntut bukti, kehidupan kita pun sering kali diperlukan bukti-bukti. Setiap akhir tahun, saya melakukan evaluasi kerja dengan superior dan juga anak buah. Proses review dengan tatap muka disertai pemaparan bukti pencapaian target dan argumen, jika terjadi perbedaan persepsi tentang kualitas pencapaian target. Sehingga karyawan dengan performance tinggi, sedang, atau rendah didukung oleh bukti yang jelas.
Namun, kita tidak memerlukan bukti mengenai siapakah Yesus. Kita sudah dicintai Allah bahkan sebelum kita lahir, dosa kita disulihkan dengan wafat-Nya di kayu salib. Tidak perlu argumen apa pun. Kita sudah dipilih untuk mengikuti jalan-Nya.
Namun, kita tidak memerlukan bukti mengenai siapakah Yesus. Kita sudah dicintai Allah bahkan sebelum kita lahir, dosa kita disulihkan dengan wafat-Nya di kayu salib. Tidak perlu argumen apa pun. Kita sudah dipilih untuk mengikuti jalan-Nya.
Doa:
Tuhan Yesus gembalaku, panggilah aku selalu untuk selalu mengikutimu, karena dalam diri-Mu selalu ada keselamatan. Wafat-Mu adalah bukti cinta-Mu yang tidak perlu argumentasi untuk tidak mengikuti kehendak-Mu. Kuatkanlah aku selalu untuk setia di jalan-Mu. Amin.
Tuhan Yesus gembalaku, panggilah aku selalu untuk selalu mengikutimu, karena dalam diri-Mu selalu ada keselamatan. Wafat-Mu adalah bukti cinta-Mu yang tidak perlu argumentasi untuk tidak mengikuti kehendak-Mu. Kuatkanlah aku selalu untuk setia di jalan-Mu. Amin.

Komentar
Posting Komentar