(Renungan) Menyangkal

Menyangkal
(Ari Susanto)

Jawab Yesus, “Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” 
(Yoh. 13:38)

Kalender Liturgi Selasa, 31 Maret 2026
Hari Selasa dalam Pekan Suci
Bacaan Pertama: Yes. 49:1- 6
Mazmur Tanggapan: Mzm. 71:1-2.3-4a.5-6ab.15.17 
Bacaan Injil: Yoh. 13:21- 33.36-38 

Pada malam terakhir kebersamaan dengan para murid, Yesus menyatakan apa yang akan terjadi pada diri-Nya. Pertama, Yudas Iskariot akan berkhianat dengan menyerahkan diri-Nya kepada para imam kepala. Ia pergi meninggalkan Yesus menuju kepada kegelapan. Kedua, Petrus murid yang utama pun akan menyangkal diri-Nya sampai tiga kali, di hadapan orang-orang Yahudi. Ia mengaku tak mengenal Yesus yang menyebabkannya terperangkap dalam kecemasan dan kegelisahan. Demikianlah Yesus di sisa waktu yang tinggal sekejap, dengan rasa haru berbicara kepada para murid, bahwa tugas perutusan telah selesai dan waktunya telah tiba untuk kembali kepada Bapa yang mengutus-Nya.

Yesus telah mengatakan sebelumnya tentang akan adanya murid yang mengkhianati-Nya. Namun, pada kesempatan malam itu Yesus berbicara mengenai kesedihan akibat pengkhianatan itu. Hal ini membuat Simon Petrus ingin mengetahui siapa yang akan melakukan ini, dengan bertanya kepada Yesus melalui murid yang duduk dekat-Nya, yakni Yohanes. Yesus menjawab dengan apa yang akan Ia lakukan, yakni mencelupkan roti pada cawan dan memberikan kepada seorang murid tertentu.

Sedangkan penyangkalan oleh Petrus diawali dengan salah paham akan kepergian Yesus dan kemurahan hati untuk mempertaruhkan hidupnya bagi Yesus, demi kebersamaan dengan-Nya lebih lama. Demikianlah penyangkalan Petrus dilakukan demi mendapatkan persembunyian sesaat dari rasa cemas dan gelisah sebagai murid Yesus, namun diakhiri dengan penyesalan.

Kecemasan sempat menghantui kami, sewaktu mengantar anak hendak melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Ia pergi seorang diri untuk pertama kalinya. Justru rasa cemas ini membuat saya bersama istri tak henti-henti berdoa, mohon keselamatan dan menyerahkan segalanya dalam kuasa Tuhan. Kecemasan pertama teratasi. Kecemasan lain muncul, ia harus masuk karantina dua minggu terlebih dulu, sebab waktu itu pandemi Covid-19 belum berakhir. Keterbatasan dan kerapuhan kami sebagai manusia, membuat kami hanya bersandar pada kekuatan yang tak terbatas, yakni Yesus Kristus. 

Marilah kita sadari identitas kita sebagai murid Kristus yang setia, tanpa jeda sejenak pun meninggalkan-Nya demi kepentingan pribadi!

Doa:
Ya Allah Yang Maha Kasih, kasih-Mu sungguh nyata memampukan kami di saat kecemasaan menghantui hidup kami, akan sesuatu yang belum tentu terjadi pada kami. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia