(Renungan) Pengharapan untuk Hidup Kekal

Pengharapan untuk Hidup Kekal 
(C. Hudianto) 

Karena itu, tadi Aku berkata kepadamu bahwa kamu akan mati dalam dosamu.
Sebab, jikalau kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.
(Yoh. 8:24)

Kalender Liturgi Selasa, 24 Maret 2026 
Hari Biasa Pekan Prapaskah V
Bacaan Pertama: Bil. 21:4-9 
Mazmur Tanggapan: Mzm. 102:2-3.16-18.19-20 
Bacaan Injil: Yoh. 8:21-30

Bacaan Injil hari ini adalah pengajaran Yesus di Bait Allah saat Hari Raya Pondok Daun. Yesus menyatakan diri dan mengajak mereka untuk percaya kepada-Nya, supaya tidak mati dalam dosa, tetapi mempunyai pengharapan hidup kekal. Pada kesempatan lain Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh. 14:6). Pernyataan diri Yesus tersebut mempunyai makna bahwa Yesus memberi teladan (jalan) hidup yang benar, sehingga akan sampai kepada kebenaran iman, lalu mencapai hidup kekal di surga. Ia adalah kebenaran yang hidup, karena kata-Nya, “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh. 10:30). Maka, dengan percaya kepada Yesus, akan mendapat bagian dalam hidup Ilahi yang dimiliki Yesus bersama Bapa. 

Mengenal Yesus melalui pola hidup, ajaran dan sabda-Nya serta melakukannya atas dasar iman adalah hidup yang dipimpin Roh Allah. Maka, percayalah akan merasakan kehidupan dalam Kerajaan Surga meskipun masih di dunia.  Sebab, pola hidup-Nya penuh dengan buah-buah Roh, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. (Gal. 5: 22 -23). Kepenuhannya akan terwujud pada akhir zaman. 

Hidup yang dipimpin Roh Allah, dialami penulis, ketika pada bulan Januari 2026 pergi ziarah dan menginap di pertapaan para Rabiah di Gedono dan pertapaan para Rahib di Rawa Seneng. Pola kehidupannya atas dasar kontemplatif murni dengan spiritualitas Ora et Labora. 'Ora' atau berdoa, yaitu sepenuh waktu di dalam keheningan suci. Berdoa 7 kali ibadat sehari, dan hidup secara monoteistik ialah hidup mengandalkan satu Tuhan yang mengatur dan selalu bersama-Nya. Sedangkan 'labora' yaitu bekerja secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang sederhana dan tidak ada TV, Handphone dan lainnya. Inilah yang penulis lihat dan rasakan adanya kasih, kedamaian, ketenangan dan kelembutan, seolah-olah berada di surga.

Di sela-sela kesibukan seorang awam, kita juga bisa menciptakan keheningan batin untuk berelasi dengan Tuhan yang lebih akrab. Niscaya akan mengalami transformasi diri dan memperoleh energi spiritual sebagai sebuah kekuatan. Apakah Anda ingin mencoba?

Doa: 
Bapa di surga Yang Maha Rahim, kami bersyukur atas karunia-Mu dapat melihat sebagai manusia yang lemah, mengenai terang iman yang masih harus terus diasah dan diperkuat untuk bisa memuliakan Allah serta memberi terang kepada sesama. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia