(Renungan) Perang Opini Identitas Yesus

Perang Opini Identitas Yesus
(Irene Sri Handayani)

Kemudian beberapa orang Yerusalem berkata, "Bukankah Dia ini yang mau mereka bunuh? Namun, lihatlah, Ia berbicara terang-terangan dan mereka tidak mengatakan apa- apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu bahwa Dialah Mesias?
(Yoh. 7:25-26)

Kalender Liturgi Jumat, 20 Maret 2026
Hari Biasa Pekan Prapaskah IV
Bacaan Pertama: Keb. 2:1a.12-22
Mazmur Tanggapan: Mzm. 34:17-18.19-20.21.23
Bacaan Injil: Yoh. 7:1-2.10.25-30

Kita sering menyaksikan 'perang opini' di berbagai platform media sosial. Informasi bercampur dengan opini, kebenaran bercampur dengan manipulasi. Orang semakin sulit membedakan mana yang sungguh terjadi dan mana yang direkayasa. Tidak jarang seseorang yang sebenarnya benar justru digambarkan sebagai pembuat onar. Sementara opini publik perlahan digiring secara keliru.

Situasi serupa ternyata telah terjadi pada diri Yesus. Ia mengajar secara terbuka, namun tidak semua mengenal-Nya. Orang banyak mulai berbisik-bisik tentang identitas-Nya. Ada yang kagum, ada yang ragu, ada yang bertanya-tanya tentang asal-usul-Nya, ada pula yang secara aktif berusaha menolak serta mendiskreditkan-Nya. Terjadilah semacam 'perang opini' tentang siapa sebenarnya Yesus.

Sebagian orang menilai Yesus hanya dari asal-usul lahiriah; mereka merasa tahu dari mana Ia datang. Yesus mengakui bahwa Ia datang dari Bapa. Misteri ini hanya dapat dipahami dalam terang iman. Ia sungguh manusia, yang dapat merasa lelah dan haus (lih. Yoh. 4:7), namun sekaligus sungguh Allah, Sang Sabda yang menjadi daging. Pengakuan iman seperti yang diucapkan oleh Simon Petrus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (lih. Mat. 16:16), lahir bukan dari opini publik, melainkan dari pewahyuan Bapa.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa pengenalan akan Yesus tidak cukup berhenti pada pengetahuan historis. Iman adalah tanggapan pribadi terhadap pewahyuan Allah. Tanpa relasi doa dan keterbukaan hati terhadap Roh Kudus, kita mudah terombang-ambing oleh berbagai pandangan tentang Yesus. Sebaliknya, ketika kita mengenal Dia secara pribadi dalam doa, sakramen, dan pengalaman hidup sehari-hari, iman kita menjadi kokoh.

Percaya bahwa Yesus adalah Mesias dan Putra Allah memang bukan perkara mudah. Kebenaran-Nya mengguncang kepentingan dan kenyamanan banyak pihak. Sebagai anggota Gereja, kita dipanggil untuk tetap setia pada kebenaran, sekalipun opini dunia tidak selalu sejalan dengan iman kita.

Mari kita renungkan, apakah kita mengenal Yesus secara pribadi,? Apakah kita masih meragukan-Nya? Beranikah kita percaya dan bersaksi tentang Dia di tengah dunia yang penuh kebisingan?

Doa:
Tuhan Yesus, di tengah banyaknya suara dan opini yang membingungkan, teguhkanlah iman kami kepada-Mu. Utuslah Roh Kudus-Mu agar kami mampu mengenal Engkau bukan hanya dengan akal budi, tetapi dengan hati yang percaya. Jadikanlah kami saksi kebenaran-Mu di tengah dunia. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia