(Renungan) Puasa dan Pantang Kita bagi Bumi

Puasa dan Pantang Kita bagi Bumi
(Yoseph Deddy Kurniawan)

”Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi.”
(Yoh. 8:11b)

Kalender Liturgi Senin, 23 Maret 2026
Hari Biasa Pekan Prapaskah V
Bacaan Pertama : Dan 13:1-9, 15-17, 19-30, 33-62
Mazmur Tanggapan : Mzm 23:1-3a, 3b-4, 5, 6
Bacaan Injil : Yoh 8:1-11

Fajar menyapa pelataran Bait Allah dengan cahaya keemasan. Di sana, Yesus duduk mengajar jiwa-jiwa yang haus. Namun ketenangan pecah oleh derap langkah kasar para ahli Taurat dan Farisi yang menyeret seorang perempuan tertangkap basah berzina. Mereka menjadikannya tontonan memalukan di tengah kerumunan. "Musa memerintahkan melempari perempuan seperti ini dengan batu. Bagaimana pendapat-Mu?" tanya mereka mencoba menjebak Yesus.

Yesus tidak menjawab dengan amarah, Ia hanya membungkuk dan menulis di tanah dengan jari-Nya. Tindakan Yesus mengingatkan pada 'jari Allah' yang menuliskan Taurat di loh batu, namun kini Ia menulis di atas debu yang rapuh, seperti kemanusiaan kita. Ketika didesak, Ia bangkit dan berucap, "Siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Satu demi satu, batu-batu yang digenggam, mereka jatuhkan ke tanah. Suara debumannya adalah gema pertobatan. Yesus, satu-satunya yang tanpa dosa, justru memilih untuk memulihkan, "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi."

Sering kali, tanpa sadar kita melempar 'batu' ke arah alam, rumah kita bersama. Di antara gedung pencakar langit dan kepulan asap kendaraan, alam sedang 'tertangkap basah' menderita akibat ketamakan kita. Sungai-sungai di kota tersumbat plastik, udara sesak oleh polusi, dan ruang hijau terhimpit beton. Jika Yesus menulis di debu tanah Yerusalem untuk mengingatkan asal-muasal kita, maka hari ini Ia mengingatkan kita, bahwa tanah yang kita injak adalah kudus.

Meletakkan 'batu' berarti berhenti membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan mulai menanam kehidupan di lahan-lahan sempit perkotaan. Di masa Prapaskah ini, biarlah puasa kita bukan sekadar menahan lapar, melainkan membebaskan bumi dari belenggu kerusakan.

Marilah kita menjadi seperti embun yang memberi kesejukan pada pucuk daun di sekitar kita! Sebab, ketika kita memulihkan alam, kita sedang menyatakan kasih Allah yang tidak menghukum, dan memberi kesempatan baru bagi seluruh ciptaan untuk bertunas kembali.

Doa:
Ya Bapa, terima kasih karena Engkau tidak melempar batu penghakiman atas kerapuhan kami, melainkan menuliskan pengampunan di atas debu hati kami. Jadikanlah tangan kami alat penyembuh bagi bumi dan biarlah pertobatan kami berbuah hijau, menghadirkan napas kehidupan baru bagi kota kami dan kemuliaan bagi nama-Mu. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia