(Renungan) Selalu Ada Jalan Kembali kepada Tuhan
Selalu Ada Jalan Kembali kepada Tuhan
(Irene Purnomo)
(Irene Purnomo)
Siapakah seperti Engkau Allah yang mengampuni dosa, yang memaafkan pelanggaran sisa umat milik-Nya sendiri, dan tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan menunjukkan kasih setia?
(Mi. 7:18)
Kalender Liturgi Sabtu, 7 Maret 2025
Hari Biasa Pekan Prapaskah II
Bacaan Pertama: Mi. 7:14-15.18-20
Mazmur Tanggapan: Mzm. 103:1-2.3-4.9-10.11-12
Bacaan Injil: Luk. 15:1-3.11-32
Di akhir Kitab Mikha, Allah menyingkapkan wajah-Nya yang penuh belas kasih. Setelah menegur dosa umat-Nya, Mikha berdoa agar Tuhan kembali menggembalakan mereka. Allah tidak digambarkan semata-mata sebagai hakim yang menghukum, melainkan sebagai gembala yang melindungi dan menuntun umat yang tidak setia.
Mazmur Tanggapan: Mzm. 103:1-2.3-4.9-10.11-12
Bacaan Injil: Luk. 15:1-3.11-32
Di akhir Kitab Mikha, Allah menyingkapkan wajah-Nya yang penuh belas kasih. Setelah menegur dosa umat-Nya, Mikha berdoa agar Tuhan kembali menggembalakan mereka. Allah tidak digambarkan semata-mata sebagai hakim yang menghukum, melainkan sebagai gembala yang melindungi dan menuntun umat yang tidak setia.
Mikha mengingatkan kembali karya keselamatan Tuhan ketika membebaskan Israel dari Mesir. Hal ini menegaskan bahwa Allah yang setia di masa lalu adalah Allah yang sama hingga hari ini. Puncak bacaan ini adalah pengakuan iman yang indah, “Siapakah seperti Engkau, Allah yang mengampuni kesalahan?” (Mi. 7:18). Tuhan tidak menyimpan murka untuk selamanya, sebab kasih setia-Nya jauh melampaui dosa manusia.
Bertahun-tahun kemudian, pengalaman iman itu menyentuh hidup saya. “Ikut seminar, bu,” ajak seseorang sambil menyodorkan flyer. “Mari ikut EJ,” sapa yang lain dengan penuh semangat.
Undangan seperti ini hampir selalu saya dengar setiap selesai Misa Minggu di pintu keluar gereja. Namun saya tak pernah berhenti. Saya tidak mengambil selebaran, tidak bertanya, dan tidak tertarik. Dalam hati saya berkata, saya sudah ke gereja, kewajiban sudah selesai. Pikiran saya hanya satu: segera pulang untuk memberi les bahasa Inggris. Tanpa saya sadari, urusan materi perlahan menjadi prioritas utama.
Sepulang mengajar, rutinitas keluarga menanti: mengurus anak-anak dan menegakkan disiplin. Tanpa disadari, kekerasan hati mulai muncul dalam bentuk kata-kata yang tajam dan nada suara yang meninggi. Kesalahan-kesalahan ini mungkin tampak kecil, tetapi perlahan dan pasti membuat saya semakin menjauh dari Tuhan. Saya rajin ke gereja, namun hanya sebagai kewajiban dan rutinitas saja. Tanpa iman dan perbuatan yang membawa berkat dalam hidup sehari-hari.
Bacaan hari ini meneguhkan bahwa pintu pengampunan selalu terbuka bagi siapa pun yang mau kembali. Saat saya berani merendahkan hati, saya mengalami bahwa kasih Tuhan jauh lebih besar daripada kesalahan saya. Dalam masa pertobatan ini, apakah hati Anda jauh dari Tuhan? Mohonlah pengampunan, seberapa pun dosa kita! Selalu ada jalan kembali kepada Tuhan.
Doa:
Tuhan, Engkau setia dan penuh belas kasih. Ampuni kekerasan hati kami. Gembalakanlah kami kembali dan tuntun kami agar menghidupi kasih-Mu setiap hari. Amin.

Komentar
Posting Komentar