(Renungan) Sentuh Hatiku

Sentuh Hatiku
(Grace Th. Supit)
 
Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia dan kita miliki warisannya. 
(Mat. 21:38)
 
Kalender Liturgi Jumat, 6 Maret 2026
Hari Biasa Pekan Prapaskah II
Bacaan Pertama: Kej. 37:3-4.12-13a.17b-28
Mazmur Tanggapan: Mzm. 105:16-17.18-19.20-21
Bacaan Injil: Mat. 21:33-43.45-46
 
Ketika Bapak Hari meninggal dunia mendadak kena serangan jantung, dia belum membagi harta warisannya di notaris. Yanto sebagai anak sulung dari tiga bersaudara bertindak membagi harta itu. Hal ini memicu konflik di antara mereka karena pembagiannya tidak rata.  Anak sulung seharusnya bertindak mewakili adik-adiknya dalam mengelola dan membagi warisan. Si sulung boleh mengelola warisan tersebut di saat adik-adiknya masih belum dewasa. Namun, di sini si sulung merasa jadi pemilik warisan tersebut.

Kejadian di atas seperti bacaan Injil hari ini. Perumpamaan seorang tuan tanah akan menggarap tanahnya yang subur untuk perkebunan anggur dan ia mempekerjakan para penggarap. Dia mengutus hamba-hambanya untuk menagih hasilnya. Tuan tanah itu mewakili Allah, hamba-hamba tuan tanah itu mewakili para nabi. Anak tuan tanah mewakili Yesus. Sedangkan para penggarap mewakili para pemuka agama saat itu dan juga kita. Banyak para nabi yang dibunuh. Yesus juga dibunuh karena keinginan para penggarap untuk menguasai hasil kebun yang bukan miliknya.

Yesus mengingatkan untuk waspada terhadap ketamakan akan kekayaan, terutama keinginan untuk memiliki apa yang bukan hak kita. Masalahnya, terkadang manusia bukan tidak tahu kebenaran, tetapi enggan tunduk pada otoritas-Nya. Kita ingin menjadi tuan atas hidup kita sendiri. Kekayaan dunia terkadang membuat orang merasa puas. Kehadiran Tuhan diabaikan, bahkan dianggap sebagai gangguan terhadap kenyamanan hidup. Kita diajak menyadari bahwa Tuhan adalah pemilik yang berdaulat atas hidup kita.

Kita adalah penggarap, yang menikmati berkat-berkat Tuhan. Sepantasnyalah kita menghormati Tuhan, sang pemilik kebun. Tugas kita menghasilkan buah yang baik dengan menggunakan talenta dan waktu untuk kemuliaan nama-Nya. 

Selayaknya kita peka terhadap suara hati dan firman Tuhan, agar senantiasa menyadari kehadiran Tuhan, sang pemilik kebun anggur dalam keseharian kita.

Doa:   
Ya Tuhan Yesus, bukalah mata hati kami agar lebih terarah pada ajaran-ajaran-Mu, serta taat melakukannya. Sentuhlah hati kami agar kami tetap mengasihi-Mu, dengan mau melihat sesama kami yang hidupnya serba kekurangan. Amin.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia