(Renungan) Bangkit dan Berjalanlah
Bangkit dan Berjalanlah
(Ari Susanto)
(Ari Susanto)
“Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu:
Dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, bangkit dan berjalanlah!”
(Kis.3:6)
Bacaan Pertama: Kis. 3:1-10
Mazmur tanggapan: Mzm. 105:1-2.3-4.6-7.8-9
Bacaan Injil: Luk. 24:13-35
Mazmur tanggapan: Mzm. 105:1-2.3-4.6-7.8-9
Bacaan Injil: Luk. 24:13-35
Dalam bacaan pertama hari ini, dikisahkan seorang pengemis lumpuh setiap hari dibawa oleh teman-temannya untuk duduk di gerbang indah Bait Allah; menantikan belas kasihan orang yang hendak sembahyang. Menjelang pukul tiga petang, Petrus dan Yohanes hendak sembahyang seturut adat istiadat bangsa Yahudi. Langkah mereka terhenti oleh pengemis lumpuh yang mohon belas kasihan. Mereka membebaskan dia dari kelumpuhan, sehingga pengemis itu terkejut dan melonjak kegirangan, berjalan mengikuti ke Bait Allah. Pada zaman itu, seorang penyandang disabilitas tidak diperkenan memasuki Bait Allah, apalagi ikut beribadat (bdk. Im. 21:18-21). Demikianlah pengemis lumpuh yang mampu melihat belas kasih Kristus dalam diri para rasul itu akhirnya bisa bangkit dan berjalan mengikuti mereka.
Pengemis yang lumpuh itu disembuhkan bukan oleh kuasa Petrus maupun Yohanes atau kesalehan mereka, melainkan oleh iman dalam nama Yesus. Penyembuhan ini menunjukkan bahwa Allah membenarkan putera-Nya Yesus Kristus yang ditolak oleh bangsa-Nya. Sapaan Petrus dalam ‘nama Yesus’ menunjukkan bahwa Allah telah membangkitkan-Nya dari kematian dan memuliakan nama-Nya. Demikianlah belas kasih Allah memberikan kesembuhan, sehingga si lumpuh mampu bangkit dan berjalan, lalu mengungkapkan rasa syukur dengan memuliakan Allah di Bait-Nya yang suci.
Pengemis yang lumpuh itu disembuhkan bukan oleh kuasa Petrus maupun Yohanes atau kesalehan mereka, melainkan oleh iman dalam nama Yesus. Penyembuhan ini menunjukkan bahwa Allah membenarkan putera-Nya Yesus Kristus yang ditolak oleh bangsa-Nya. Sapaan Petrus dalam ‘nama Yesus’ menunjukkan bahwa Allah telah membangkitkan-Nya dari kematian dan memuliakan nama-Nya. Demikianlah belas kasih Allah memberikan kesembuhan, sehingga si lumpuh mampu bangkit dan berjalan, lalu mengungkapkan rasa syukur dengan memuliakan Allah di Bait-Nya yang suci.
Pada saat menyiapkan para peserta penerima Sakramen Penguatan, ada salah satu peserta yang bertanya; apakah tidak menghadiri perayaan Ekaristi pada hari Minggu termasuk dosa? Ya, jika dilakukan secara sadar dan disengaja, karena melanggar sepuluh perintah Allah yang ke-tiga, 'Kuduskanlah hari Tuhan'.
Melalui bacaan hari ini kita diingatkan akan adanya kelumpuhan rohani, yang dapat menjadikan orang enggan untuk berjalan melangkah memasuki gereja pada hari Minggu. Dengan berbagai dalih, membuat orang itu merasa benar melakukan itu. Hal yang demikian menutupi mata batin, sehingga tak mampu melihat wajah Allah yang berbelas kasih. Marilah kita bangkit dan berjalan untuk melihat wajah kasih Kristus dalam Perayaan Ekaristi!
Doa:
Ya Allah yang bertahta di dalam surga, Engkau senantiasa hadir dalam Sakramen Maha Kudus. Mampukan kami bangkit dan berjalan menyambut-Mu agar dapat menimba rahmat kasih-Mu. Amin.

Komentar
Posting Komentar