(Renungan) Bukan Ilusi

Bukan Ilusi
(Hiyanto Mulia)

Kata-Nya kepada mereka, “Ada tertulis begini: Mesias harus menderita dan 
bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga.”
(Luk. 24:46)

Kalender Liturgi Kamis, 9 April 2026
Bacaan Pertama : Kis. 3:11-26
Mazmur Tanggapan: Mzm. 8: 2a.5.6-7.8-9
Bacaan Injil: Luk. 24:35-48

Kalau mendengar kata penampakan, banyak orang langsung membayangkan sesuatu yang mistis, lalu hampir pasti menjadi berita sensasional. Dalam Gereja Katolik, penampakan, seperti di Lourdes dan Fatima yang sempat kami kunjungi, selalu diselidiki dengan serius dan teliti. Butuh waktu lama, sebelum diakui. Pesan dari setiap penampakan yang diakui Gereja, selalu sederhana: bertobat, berdoa, dan kembali ke Tuhan. Bunda Maria tidak pernah ingin menjadi pusat perhatian. Ia selalu mengarahkan orang pada Yesus, sumber harapan dan keselamatan.

Pengalaman iman ini membantu kita memahami peristiwa yang dikisahkan dalam Injil Lukas. Para murid sedang berkumpul, tapi hati mereka masih dipenuhi dengan rasa takut dan bingung. Meski sudah mendengar kabar Yesus bangkit, mereka belum benar-benar yakin. Lalu, tanpa aba-aba, Yesus hadir di tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu.” Alih-alih bahagia berjumpa Yesus, mereka malah panik. Mereka mengira itu cuma bayangan atau hantu.

Yesus paham keraguan mereka. Ia tidak menyalahkan atau menghakimi. Ia menunjukkan luka-luka-Nya dan bahkan makan bersama mereka. Yesus mau menegaskan bahwa kebangkitan itu nyata, bukan ilusi atau drama atau cerita penghibur. Pelan-pelan, Ia membuka pikiran mereka agar mengerti bahwa penderitaan, wafat, dan kebangkitan-Nya adalah bagian dari rencana Allah yang penuh kasih.

Sama seperti pesan penampakan Maria yang selalu mengajak orang hidup lebih dekat dengan Tuhan, penampakan Yesus kepada para murid juga punya tujuan yang jelas: mengutus. Para murid yang tadinya takut kini dipanggil menjadi saksi. Dari yang bersembunyi, mereka berubah menjadi pribadi yang berani mewartakan iman.

Dalam hidup kita, Tuhan mungkin tidak menampakkan diri secara spektakuler. Namun Ia  hadir lewat Sabda, Ekaristi, Gereja, dan orang-orang di sekitar kita. Pertanyaannya sederhana: apakah kita peka atau tidak? Tetap ragu atau berani membiarkan perjumpaan dengan Tuhan mengubah kita menjadi pembawa damai dan harapan?

Doa:
Tuhan Yesus yang bangkit, ajari kami mengenali kehadiran-Mu dalam hal-hal sederhana. Saat iman kami goyah, kuatkan hati kami. Utuslah kami menjadi saksi kasih-Mu lewat sikap, kata, dan tindakan sehari-hari. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia