(Renungan) Guru yang Membasuh Kaki

Guru yang Membasuh Kaki
(Maria Theresia Widyastuti)

Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, 
sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.
(Yoh. 13:13)

Kalender Liturgi Kamis, 2 April 2026
Hari Kamis Putih
Bacaan Pertama: Kel. 12:1-8.
11-14
Mazmur Tanggapan: Mzm. 116:12-13.15-16bc.17-18
Bacaan Kedua: 1Kor. 11:23-26
Bacaaan Injil: Yoh.13: 1-15

Saya mempunyai seorang guru yang selalu tiba paling pagi di sekolah. Suatu hari saya bertanya kepadanya, “Mengapa ibu selalu datang paling pagi ke sekolah?” Beliau tersenyum dan menjawab, “Supaya saya bisa memastikan kelas ini siap untuk kalian belajar.” Saya baru menyadari sesuatu. Setiap pagi, beliau sudah lebih dulu menyapu kelas, merapikan kursi, bahkan menghapus papan tulis yang belum sempat dibersihkan hari sebelumnya. Beliau tidak pernah meminta murid melakukannya. Ia melakukannya diam-diam. Di mata dunia, guru adalah orang yang dihormati. Bagi saya, guru adalah orang yang mengajar, memberi tugas, dan memberi nilai. Kini saya melihat sesuatu yang berbeda seiring perkembangan iman saya, di mata dan hati saya beliau adalah seorang guru yang melayani.

Peristiwa kecil itu mengingatkan saya pada perkataan Yesus dalam Yohanes 13:13:
“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” Yesus adalah Guru dan Tuhan. Namun, pada bagian sebelumnya dalam perikop ini, Ia justru melakukan sesuatu yang mengejutkan: Ia membasuh kaki murid-murid-Nya. Pada zaman itu, membasuh kaki adalah pekerjaan seorang hamba. Tuhan adalah pribadi yang diagungkan. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Kerajaan Allah tidak dimulai dari posisi yang tinggi, melainkan dari kerendahan hati untuk melayani. Yesus tidak hanya mengajar dengan kata-kata. Ia mengajar dengan tindakan. Sering kali kita ingin dihargai sebelum melayani. Kita ingin diakui sebelum memberi. Namun, Yesus memperlihatkan jalan yang berbeda: menjadi besar dengan cara merendahkan diri, dan memimpin dengan cara melayani.

Hari ini kita mungkin juga menyebut Yesus sebagai Guru dan Tuhan. Tetapi pertanyaannya bukan hanya apa yang kita katakan, melainkan bagaimana kita hidup. Apakah orang lain melihat ajaran Yesus melalui sikap kita? Apakah dalam keluarga, pekerjaan, atau komunitas, kita bersedia melakukan hal-hal kecil yang melayani orang lain? Mungkin justru di situlah kita perlu benar-benar belajar dari Sang Guru.

Doa:
Tuhan, terima kasih atas hikmat-Mu, sehingga kami bisa melihat betapa Putera-Mu adalah Guru dan Tuhan sejati yang melayani dengan kerendahan hati dan memimpin dengan contoh. Mampukan kami untuk terus dapat belajar dari Yesus dan meneladaninya seumur hidup kami. Terima kasih Tuhan, kami mencintai-Mu. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia