(Renungan) Iman yang Sejati
Iman yang Sejati
(Erick Stefanus Jahja)
Kalendar Liturgi Senin, 20 April 2026
Bacaan Pertama: Kis. 6:8-15
Mazmur Tanggapan: Mzm. 119:23-30
Bacaan Injil: Yoh. 6:22-29
(Erick Stefanus Jahja)
Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”
(Yoh. 6:29)
Bacaan Pertama: Kis. 6:8-15
Mazmur Tanggapan: Mzm. 119:23-30
Bacaan Injil: Yoh. 6:22-29
Peristiwa penggandaan roti menjadi fenomena luar biasa di masa itu, karena banyak orang mencari Yesus setelah mukjizat penggandaan roti. Peristiwa itu bisa diartikan berbeda oleh berbagai individu yang pada akhirnya memiliki perbedaan pemaknaan juga. Dalam peristiwa itu, Yesus menegur mereka yang mencari-Nya bukan karena memahami tanda-tanda yang ada dalam pribadi Yesus sebagai Anak Manusia, melainkan karena tergandanya roti.
Memahami Yesus adalah sama dengan memahami Allah bekerja, dalam peristiwa penggadaan roti. Ketika orang banyak bertanya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawaban Yesus sangatlah sederhana namun mendalam, “Percaya kepada Dia yang diutus Allah.”
Pernah saya ada dalam satu masa, ketika selalu ingat kepada Tuhan hanya saat butuh pertolongan saja. Berdoa agar masalah selesai, agar hidup lebih mudah, agar sembuh dari penyakit. Namun di saat menderita penyakit yang belum dapat disembuhkan, saya mulai berpikir apakah ada yang salah dalam perilaku saya selama ini dalam membina relasi bersama Tuhan.
Suatu waktu, saya berobat dan terapi kepada orang pintar dan saya sembuh. Namun saat pertemuan ketiga ditunda karena ibunda beliau meninggal dunia. Diceritakan ibundanya meninggal dan dijemput oleh sang ibu Ratu Laut Selatan. Hal itu membuat saya terheran, terkejut dan sadar. Saya menceritakan pengalaman ini kepada teman gereja dekat rumah. Perkataannya menyadarkan saya, “Mungkin bisa saja kamu sembuh, tapi tidak selamat.”
Sejak itu saya berhenti terapi dan berpasrah diri dalam doa kepada Allah. Meski tidak terlihat dan dirasakan oleh manusia, namun menguatkan kepercayaan akan lebih baik untuk memperoleh keselamatan jiwa yang abadi, daripada kesembuhan yang menyesatkan.
Saya bersyukur bisa berhenti terapi dan mengubah pemikiran untuk menjadikan Allah seperti layaknya nafas dalam hidupku. Saat suka, saya bersyukur atas kebahagiaan yang diberikan. Saat duka pun bersyukur atas masalah yang dihadapi, menjadikan pengalaman yang semoga berguna di kemudian hari.
Sudahkah kita memaknai kerja Yesus sebagai layaknya kerja dari Allah Bapa-Nya?
Doa:
Bapa, Engkau sebagai Juru Selamat yang diutus Allah. Ampunilah segala kurang percaya kami, rasa penasaran kami, rasa ketidakpuasan kami dalam mengikuti-Mu saat itu. Kami ingin selalu percaya akan rencana keselamatan yang Engkau janjikan. Karena Engkaulah Sang Juru Selamat kami. Amin.
Doa:
Bapa, Engkau sebagai Juru Selamat yang diutus Allah. Ampunilah segala kurang percaya kami, rasa penasaran kami, rasa ketidakpuasan kami dalam mengikuti-Mu saat itu. Kami ingin selalu percaya akan rencana keselamatan yang Engkau janjikan. Karena Engkaulah Sang Juru Selamat kami. Amin.

Komentar
Posting Komentar