(Renungan) Kerahiman Tuhan dalam Hati Seorang Ibu
Kerahiman Tuhan dalam Hati Seorang Ibu
(Klara Yanti Suryat)
Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke dalam lambung-Ku. Jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”
(Yoh. 20:27)
Kalender Liturgi Minggu, 12 April 2026
Bacaan Pertama: Kis. 2:42-47
Mazmur Tanggapan: Mzm. 118:2-4.13-15.22-24
Bacaab Kedua: 1Ptr. 1:3-9
Bacaan Injil: Yoh. 20:19-31
Dalam Injil Yohanes hari ini, aku melihat diriku dalam para murid yang takut dan terluka. Pintu tertutup, hati pun penuh beban. Namun Yesus datang dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu.” Ia tidak menghakimi, tetapi memulihkan. Bahkan kepada Tomas yang ragu, Ia tetap mendekat dan mengajak untuk percaya. Dari sini aku belajar bahwa kerahiman Ilahi tidak pernah berhenti, bahkan saat kita terjatuh berulang kali. Di hadapan Tuhan, tidak ada yang sempurna, kita dimampukan hidup baik karena kerahiman-Nya.
Bacaan Pertama: Kis. 2:42-47
Mazmur Tanggapan: Mzm. 118:2-4.13-15.22-24
Bacaab Kedua: 1Ptr. 1:3-9
Bacaan Injil: Yoh. 20:19-31
Dalam Injil Yohanes hari ini, aku melihat diriku dalam para murid yang takut dan terluka. Pintu tertutup, hati pun penuh beban. Namun Yesus datang dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu.” Ia tidak menghakimi, tetapi memulihkan. Bahkan kepada Tomas yang ragu, Ia tetap mendekat dan mengajak untuk percaya. Dari sini aku belajar bahwa kerahiman Ilahi tidak pernah berhenti, bahkan saat kita terjatuh berulang kali. Di hadapan Tuhan, tidak ada yang sempurna, kita dimampukan hidup baik karena kerahiman-Nya.
Aku seorang ibu dengan tiga anak. Hatiku terluka karena salah satu anakku jatuh dalam dosa dan terus mengulanginya. Namun, aku memilih untuk tidak meninggalkannya. Aku percaya ia bisa sadar, bangun, dan bangkit kembali. Aku berusaha menolong dan membimbingnya untuk kembali dekat kepada Tuhan, mengajaknya berdoa, mengingatkan dengan kasih, dan tetap hadir di sisinya. Aku melakukan semuanya bukan dengan hitungan logika, tetapi dengan hati yang tulus dan rela berkorban.
Anak-anakku yang lain kadang marah dan berkata kasar, merasa aku tidak adil. Itu menyakitkan, tetapi aku tetap bertahan dalam kasih. Ibu mana yang bisa meninggalkan anaknya ketika sedang terjatuh dan terluka? Setiap malam tanpa lelah aku selalu berdoa, menyebutkan nama ketiga anakku satu per satu. Dengan air mata, aku menyerahkan mereka yang jatuh, yang marah, dan yang terluka, ke dalam tangan Tuhan serta meminta perlindungan-Nya.
Aku percaya, seperti Yesus yang masuk ke ruang tertutup, Ia juga sanggup masuk ke dalam keluargaku dan memulihkan kami. Mungkin belum terlihat sekarang, tetapi kerahiman-Nya sedang bekerja, menuntun hati anak-anakku kembali untuk saling mengasihi dan percaya pada Yesus Sang Mesias.
Doa:
Tuhan Yesus yang penuh kerahiman, kami percaya kasih-Mu lebih besar dari semua luka. Bimbinglah anak kami yang jatuh agar kembali dekat kepada-Mu. Lembutkan hati kami agar saling mengasihi semua dan pulihkan keluarga kami. Amin.

Komentar
Posting Komentar