(Renungan) Ketika Dunia Mengira Semuanya Selesai

Ketika Dunia Mengira Semuanya Selesai
(Isye Iriani)

“Karena hari itu Hari Persiapan orang Yahudi, sedangkan kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan Yesus di situ.”
(Yoh. 19:42)

Kalender Liturgi Jumat, 3 April 2026
Hari Jumat Agung
Bacaan Pertama: Yes. 52:13-55:12
Mazmur Tanggapan: Mzm. 31: 2.6.12.13.15-16.17.25
Bacaan Kedua: Ibr. 4:14-16; 5:7-9
Bacaan Injil: Yoh. 18:1-19:42 

Dalam tradisi Liturgi Katolik, Jumat Agung memiliki bacaan Injil tetap, diambil dari narasi Passio Domini-Yohanes 18:1-19:42, kisah sengsara dan wafat Yesus, berakhir pada pemakaman-Nya. Yohanes 19:42 adalah ayat yang sunyi. Tidak ada mukjizat, tidak ada terang, tidak ada sorak. Hanya tubuh yang dibaringkan. Batu digulingkan. Dunia mengira semuanya selesai.

Di tengah kisah itu, berdirilah satu tokoh penting, Pilatus. Pilatus berkali-kali berkata bahwa ia tidak menemukan kesalahan pada Yesus. Ia tahu Yesus tidak bersalah.  Tetapi ia memilih menjaga jabatan, stabilitas politik, dan posisinya.  Sikap seperti ini masih kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Di sebuah klaster perumahan, pengurusnya setiap tahun meminta sumbangan THR dan perayaan bersama. Sumbangan, tapi ditetapkan besarannya. Lebih aneh lagi, tahun ini besaran sumbangan dihubungkan dengan luas tanah warga. Bagi saya, sulit menemukan logika yang menjelaskan konsep ini selain sebagai bentuk kesewenang-wenangan pengurus.  Di akhir zaman ini, dari tingkat pejabat negara sampai pengurus RW, kita melihat satu fenomena yang sama: manipulasi narasi; kebenaran yang dinegosiasikan; keputusan diambil demi keuntungan dan citra; pejabat yang tahu salah tetapi tidak berani 'berdiri'.

Namun renungan Jumat Agung tidak berhenti pada 'mereka di luar sana'. Pertanyaannya lebih dalam: Apakah ada 'Pilatus kecil' dalam diri kita?
Saat kita tahu yang benar, tetapi diam.
Saat kita tidak membela yang lemah, karena takut relasi rusak.
Saat kita memilih aman daripada jujur.
Saat iman disembunyikan, agar tidak dianggap berbeda.

Jumat Agung adalah berhenti di 'kubur yang tertutup', di keheningan, di iman yang diuji.
Maka, jangan hanya memandang salib. Biarkan salib itu memandang kita. Karena mungkin Tuhan tidak akan bertanya 
"Seberapa tinggi jabatanmu?” dan "Seberapa banyak hartamu?"
Tetapi mungkin Ia akan bertanya: ”Ketika yang benar sendirian dan kebenaran disalibkan,
di pihak mana engkau berdiri?”

Sebelum fajar Paskah datang mari berefleksi: Ketika 'kubur tertutup'; ketika dunia mengira semuanya selesai; apakah kita memilih menjadi Pilatus atau saksi yang berdiri di bawah salib?

Doa:
Tuhan Yesus, di Jumat Agung ini aku berdiri di hadapan salib-Mu. Aku tahu, sering kali aku memilih aman daripada benar. Aku diam, ketika seharusnya bersuara. Aku menjaga diri, ketika seharusnya berdiri. Ampuni aku, jika ada 'Pilatus kecil' dalam hatiku. Di saat semuanya terasa gelap dan kebenaran tampak kalah, ajar aku tetap setia. Teguhkan aku untuk berdiri di pihak-Mu, meski tanpa tepuk tangan, meski harus sendiri. Sebelum fajar Paskah tiba, jagalah imanku agar tidak ikut dikuburkan. Jika suatu hari kebenaran kembali disalibkan, jangan biarkan aku berdiri jauh dari-Mu. Amin.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia