(Renungan) Mari Menerima Kabar Sukacita Tuhan!

Mari Menerima Kabar Sukacita Tuhan!
(Taruna Lala)

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan siapa yang menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.”
(Yoh. 13:20)

Kalender Liturgi Kamis, 30 April 2026
Bacaan Pertama: Kis. 13:13-25
Mazmur Tanggapan: Mzm. 89:2-3.21-22.25.27
Bacaan Injil: Yoh. 13:16-20

Sebuah adegan drama di aplikasi video, ada seseorang mendapat kunjungan seorang Kasim (utusan Kaisar) yang membawa titah Kaisar. Orang itu segera berlutut dan diikuti oleh orang-orang lain di sekitarnya. Mereka bersama-sama berseru, “Hidup Kaisar, panjang umur.” Kemudian, Kasim itu membacakan apa yang tertulis dalam titah Kaisar dan lalu memberikannya kepada orang itu. Orang itu menerima dengan baik utusan dan titah Kaisar, layaknya menerima Kaisar sendiri.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menguatkan para murid bahwa seorang hamba tidak lebih tinggi daripada tuannya atau seorang utusan daripada orang yang mengutusnya. Maksudnya, apa yang akan dialami oleh Yesus (utusan Allah Bapa), mereka pun akan mengalaminya sebagai utusan Yesus. Mereka sudah diberitahu terlebih dahulu oleh Yesus bahwa akan mengalami penderitaan seperti Dia. Salah satunya adalah dikhianati oleh orang pilihan-Nya sendiri, tetapi hal itu memang harus terjadi (Yoh. 13:18). Namun, mereka yang tetap mau melakukan tugas sebagai utusan-Nya akan berbahagia.

Para murid tercerai berai saat penangkapan Yesus sampai dengan wafat-Nya di kayu salib. Namun kembali bersatu, percaya dan diteguhkan setelah mengalami kebangkitan Yesus seperti yang dikatakan-Nya. Setelah menerima Roh Kudus yang dijanjikan-Nya, para murid menjadi utusan Tuhan Yesus yang menerima sekaligus mewartakan kabar sukacita ke seluruh dunia.

Utusan kaisar sangat berbeda dengan utusan Yesus.  Dalam suatu drama lainnya, orang yang tidak mau menerima utusan kaisar, maka kaisar menyuruh pasukannya menangkap, memenjarakan dan membunuh orang itu dan keluarganya. Untunglah orang-orang yang tidak menerima utusan Yesus, hanya mendapatkan kebasan debu dari telapak kaki utusan sebagai kesaksian terhadap mereka, artinya kesempatan masih diberikan sampai akhir,  karena Allah Maha Kasih.

Di masa kini, utusan Yesus dapat berperan sebagai orang tua, teman-teman, guru-guru, imam-imam, pewarta-pewarta dan lain-lain. Mereka telah diutus oleh Yesus dan menunggu tanggapan kita. Menerima utusan Yesus berarti menerima Yesus dan menerima Bapa yang telah mengutus Yesus. 

Mari menerima utusan Tuhan Yesus dan siap juga sebagai utusan Tuhan mewartakan kabar sukacita Tuhan!

Doa:
Bapa, terpujilah nama-Mu untuk selama-lamanya. Tolong kami membuka hati pada utusan-Mu dan menerima-Nya. Kuatkanlah kami juga agar dapat menjadi utusan-Mu. Kami serahkan semuanya dalam Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia