(Renungan) Saat Mimpi Hancur, Tuhan Tetap Hadir

Saat Mimpi Hancur, Tuhan Tetap Hadir 
(Dewi Mulyati S.)

Kata Yesus kepada mereka, "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka kamu akan mendapatkannya." Mereka pun menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. 
(Yoh. 21:6) 

Kalender Liturgi Jumat, 10 April 2026
Bacaan Pertama: Kis. 4:1-12
Mazmur Tanggapan: Mzm. 118:1-2.3.22-24.26-27a
Bacaan Injil: Yoh. 21:1-14

Arumi adalah remaja penari ballet yang berbakat. Penguasaan tehnik menari ballet dan totalitas penghayatan Arumi membuat tariannya memukau. Sampai suatu kecelakaan merenggut cita-cita Arumi menjadi penari ballet professional. Waktu berlalu, Arumi menikah, lalu melahirkan seorang putri. Putri Arumi mewarisi ketertarikan akan tarian ballet. Melihat putrinya menari, memunculkan kembali mimpi lama Arumi menjadi penari ballet. Arumi mendorong putrinya menekuni ballet. Tanpa Arumi sadari, dia ingin mewujudkan mimpinya melalui putrinya. Namun, mimpi Arumi yang dititipkan lewat putrinya harus kandas pula.  Putrinya memilih menikah muda dan menjadi ibu rumah tangga. Cukup lama Arumi tenggelam dalam kekecewaan, karena harus menguburkan mimpinya untuk kedua kalinya. Tanpa disangka, Arumi mulai terbiasa melihat putrinya dalam perannya sebagai istri dan ibu. Putrinya sibuk dengan keluarga kecilnya, tetapi masih bisa membagi waktu untuk menemani Arumi sekedar ngobrol sambil ngopi. Arumi disadarkan bahwa putrinya adalah ‘penari kehidupan’, yang lincah-melompat dari peran satu ke peran lainnya. Bisa sebagai anak, sahabat, perawat, pendengar setia yang selalu membuat Arumi merasa dicintai, dan dipedulikan. Kekecewaan Arumi telah berubah menjadi syukur. 

Cerita di atas mengingatkan kita pada para murid dalam Yohanes 21:1-14. Setelah peristiwa Yesus wafat dan bangkit, mereka berada dalam kebingungan, dan kembali ke pekerjaan lama sebagai nelayan. Sepanjang malam mereka berusaha, tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Dalam situasi gagal, kecewa dan kosong itulah Yesus menampakkan diri-Nya. Ia berkata, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu” (Yoh. 21:6). Ketika mereka taat, hasilnya melimpah.  

Saya teringat akan pengalaman sederhana ini, ketika proyek yang saya pegang dibatalkan atas keputusan perusahaan, motivasi kerja saya hilang. Meskipun sedang galau, sorenya saya tetap pergi ke undangan reuni teman-teman lama. Ternyata hanya dengan sekedar mengobrol, dapat meringankan pikiran saya. Itulah penyertaan Yesus, yang membuat saya tetap pergi reuni, dan tidak menuruti kemurungan.
  
Beranikah kita tetap percaya dan mengikuti sabda-Nya, bahkan dalam hal-hal sederhana?

Doa:
Ya Tuhan, kami mohon ampunan-Mu karena sering kali bila berada dalam kedukaan dan kegagalan, kami sibuk dengan kesedihan dan kekecewaan. Kami sering terhanyut dalam perasaan kami, daripada hening mendaraskan sabda-Mu. Tuhan jika kami khusuk, kami rasakan kehadiran-Mu. Penyertaan-Mu menyembuhkan dan memulihkan. Kuatkanlah kami untuk mensyukuri berkat-Mu, Engkau yang selalu mencukupi kami manusia yang penuh kekurangan ini. Amin.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia