(Renungan) Sapaan Yesus

Sapaan Yesus
(A.M. Regina T.)

Kata Yesus kepadanya, "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, "Rabuni!", artinya Guru.
(Yoh. 20:16)

Kalender Liturgi Selasa, 7 April 2026
Bacaan Pertama: Kis. 2:36-41
Mazmur Tanggapan: Mzm. 33:4-5.18-19.20.22
Bacaan Injil: Yoh. 20:11-18

Dua milenium lalu, Yesus yang wafat di kayu salib, dimakamkan menjelang hari Sabat; saat  semua aktivitas harus dihentikan. Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus mengkafani jenazah Yesus, serta menaruh-Nya di kubur baru yang terletak di sebuah taman (Yoh. 19:38-42). 

Pagi-pagi buta selepas hari Sabat, pergilah Maria dari Magdala ke kubur Yesus dengan membawa rempah-rempah untuk meminyaki jenazah Yesus sebagai penghormatan pada-Nya (lih. Mrk. 16:1). Alangkah terkejutnya ia saat melihat kubur Yesus sudah kosong dan batu telah diambil dari kubur. Dengan panik, Maria berlari-lari mendapati Petrus dan Yohanes dan berkata bahwa jasad Yesus telah dicuri orang.

Setelah Petrus dan Yohanes pulang, Maria Magdalena tetap tinggal di luar kubur sambil menangis. Perasaan kecewa, terkejut, sedih, marah, curiga dan pikiran negatif lainnya berkecamuk dalam pikirannya. Dalam kesedihan dan keputusasaannya, ia bahkan berprasangka buruk kepada seseorang yang dikiranya penunggu taman, sebagai pencuri jasad Yesus.

Saya pernah berada dalam situasi  seperti yang dialami Maria Magdalena. Terpuruk dalam keputusasaan karena kehilangan orang-orang yang dikasihi secara mendadak, atau saat mendengar opini anak  yang melukai perasaan. Demikian pula ketika saya sedang bad mood, atau sakit hati mendengar komentar teman yang kurang menyenangkan di WA grup. Perasaan, pikiran, hati, dan jiwa yang kacau, membuat saya merasa 'mbulet'. Berputar-putar di lingkaran tak berujung seperti kucing sedang berusaha mengejar ekornya sendiri. Ketika terlalu sibuk dengan pikiran dan kegalauan, tanpa saya sadari indera pun menjadi tumpul. Telinga juga menjadi tuli.

Yesus mencelikkan mata hati Maria Magdalena dengan memanggil namanya. Saat itulah  Maria tersadar, ternyata orang yang disangkanya penunggu taman, yang sejak tadi berada  di dekatnya adalah Yesus sendiri.
 
Yesus mengajarkan kita untuk berhenti sejenak; mendengar sapaan-Nya, duduk bersimpuh di bawah kaki-Nya, melepaskan beban hidup dan persoalan kita, menikmati Dia yang menggendong kita di kala lelah, dan menghibur di kala susah.

Maukah kita berhenti sejenak untuk mendengar sapaan Yesus yang sudah wafat dan bangkit bagi kita?

Doa:
Yesus yang baik, Engkau telah menunjukkan cinta-Mu kepada kami dengan wafat dan kebangkitan-Mu yang mulia. Terima kasih telah menyapa dengan nama kami masing-masing dan membuat kami menyadari kehadiran-Mu. Terpujilah nama-Mu Sang Kebangkitan Abadi, yang berkuasa dulu, sekarang, esok, dan sepanjang segala masa. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia