(Renungan) Tubuh Yesus Makanan Kita

Tubuh Yesus Makanan Kita
(Laurentia Linda)
    
“Akulah roti kehidupan. Siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi.” 
(Yoh. 6:35)

Kalender Liturgi Selasa, 21 April 2026
Bacaan Pertama: Ki.s 7:51-8:1a
Mazmur Tanggapan: Mzm. 31:3c-4.6ab.7b.8a.17.21ab
Bacaan Injil: Yoh. 6:30-35

Suatu hari saya pernah lupa makan karena sibuk bekerja. Awalnya saya merasa baik-baik saja. Namun setelah berulang kali terjadi, semakin lama tubuh mulai lemah, pikiran tidak fokus, dan hati pun menjadi mudah gelisah. Saya baru menyadari bahwa makanan bukan sekadar untuk bertahan hidup, tetapi kekuatan untuk menjalani hidup dengan penuh makna.
Manusia membutuhkan makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Karena itu, kita tidak makan hanya sekali seumur hidup, atau pun, secara terus-menerus makan sepanjang hari. Makanan bukan agar kita 'tidak mati', melainkan agar kita memiliki tenaga untuk bekerja, melayani, dan menjalani hidup yang berarti. 

Dalam Injil hari ini, kita diajak melihat sesuatu yang lebih dalam. Yesus Kristus memperkenalkan diri-Nya sebagai makanan bagi manusia. Ia adalah Sabda yang menjadi manusia. Yesus lahir di Betlehem. Dalam bahasa Ibrani berarti 'Rumah Roti' (Beit = rumah, Lechem = roti/makanan). Sejak lahir bayi Yesus dibaringkan di palungan, tempat untuk meletakan makanan ternak. Pesan yang disampaikan sangat jelas, bahwa Yesus datang untuk menjadi santapan bagi manusia.

Sepanjang hidup-Nya, Yesus memberi makanan jasmani bagi banyak orang secara nyata melalui mukjizat. Ia juga memberi 'makanan rohani' melalui sabda-Nya yang menguatkan, menyembuhkan, dan memberi pengharapan. Hingga pada akhir hidup-Nya, Ia memberikan yang paling sempurna, yaitu Tubuh dan Darah-Nya sendiri. 

Namun, seperti halnya makanan jasmani, kita juga tidak bisa hanya 'sekali saja' menerima-Nya. Kita membutuhkan-Nya secara terus-menerus. Bersyukur dalam Gereja Katolik kita mempunyai Sakramen Ekaristi, Perjamuan Kudus yang terus kita rayakan setiap hari sampai hari ini. Apakah kita merindukan kehadiran-Nya seperti kita merindukan makanan saat lapar? 

Sering kali kita merasa lelah, kosong, atau kehilangan arah. Bisa jadi bukan karena hidup terlalu berat, tetapi karena kita kurang 'makan' secara rohani. 

Sudahkah kita memberi waktu untuk 'menyantap' sabda Tuhan setiap hari? Atau kita justru mencoba kuat dengan kekuatan sendiri?

Doa:
Tuhan berikanlah kami rahmat-Mu, agar kami senantiasa rindu datang kepada-Mu sebagaimana Engkau juga selalu merindukan kami. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia