(Renungan) Authority

Authority
(Martha Maria Herina Tjahjadi)

 "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?"
(Mrk. 11:28)

Kalender Liturgi Sabtu, 30 Mei 2026
Bacaan Pertama: Yud. 17:20b-25
Mazmur Tanggapan: Mzm. 63:2.3-4.5-6 
Bacaan Injil: Mrk. 11:27-33

Jika kuasa duniawi dan ego merasuk dalam keagamaan, yang terjadi adalah seperti perlakuan dan pertanyaan imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua kepada Yesus. Seakan mereka tidak menggunakan pengetahuan, indera dan hati mereka secara baik. Apakah memang mereka lebih bebal daripada setan yang merasuki seseorang di Kapernaum. Saat Yesus mengajar di rumah ibadat, ada seorang yang kerasukan roh jahat berteriak, "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Apakah Engkau datang  untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." (Bdk Mrk. 1:24). Bahkan setan pun mengetahui identitas Yesus dan dari kuasa mana Yesus berasal, yaitu yang kudus dari Allah.

Manusia di dunia selalu berusaha memiliki otoritas/kuasa. Dengan kuasa di tangannya mereka memiliki kekuatan. Harapannya adalah dengan kekuasaan yang dimiliki, mereka dapat memimpin rakyatnya dengan adil, menjadi pengayom supaya sejahtera dan damai. Namun, kenyataan berbalik dari harapan. Alih-alih membawa damai dan sejahtera, banyak penguasa, bahkan pemimpin negara adikuasa, dengan kekuasaan di tangannya, menjadi insiator peperangan. Dengan berbagai alasan yang ujungnya hanyalah untuk kepuasan ego dan demi keuntungan ekonomis sang pemimpin semata.

Tuhan Yesus datang ke dunia dengan kuasa dari Allah Bapa. Misi-Nya membawa dan membagikan kabar suka cita kerajaan Allah sudah dekat. Misi damai dengan kasih-bukan dengan peperangan, diwariskan kepada para rasul-Nya untuk terus dilakukan oleh Gereja-Nya. Kuasa adalah hanya milik Allah. 

Tahun ini kita merayakan 800 tahun wafatnya St. Fransiskus Asisi. Seorang santo, tanpa senjata apa pun, melintasi garis pertempuran ke Mesir dan bertemu dengan Sultan Malik al Kamil untuk mengakhiri peperangan saat itu. Allah menghendaki kuasa yang dianugerahkan kepada kita dipergunakan untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar. Sehingga setiap orang yang menyaksikan dan mengalaminya boleh melihat Allah di dalam diri kita. Kita yang sekarang sudah menjadi murid-Nya, diutus dengan kuasa di dalam nama Yesus menyebarkan kasih dalam hidup sehari-hari. 

Apakah kita sudah mempergunakan kuasa yang dipercayakan Allah dengan benar?

Doa:
Bapa yang penuh dengan kuasa kasih, terangilah selalu hati dan budi kami untuk sadar akan jati diri kami. Kami yang dianugerahi kuasa di dalam hal apa pun, hendaknya kami pergunakan untuk melakukan kebaikan dan menolong. Mewujudkan misi kami di dunia, seperti yang Engkau kehendaki, sehingga jadilah Kerajaan-Mu di bumi seperti di surga. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah