(Renungan) Batu Hidup

Batu Hidup
(Francisca Kurniawati) 

Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, menjadi imamat kudus untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.
(1 Ptr. 2:5)

Kalender Liturgi Minggu, 3 Mei 2026
Bacaan Pertama: Kis. 6:1-7
Mazmur Tanggapan: Mzm. 33:1-2.4-5.18-19
Bacaan Kedua: 1 Ptr. 2: 4-9
Bacaan Injil: Yoh. 14:1-12

Hari ini adalah hari Minggu Paskah V, kita masih merayakan Pesta Kebangkitan Tuhan. Tuhan kita Yesus Kristus adalah batu penjuru yang menjadi batu hidup. Batu penjuru adalah batu utama yang menjadi dasar berdirinya fondasi suatu bangunan. Melalui sabda-Nya kepada rasul Petrus, Tuhan Yesus menginginkan kita sebagai murid-murid-Nya, juga menjadi batu penjuru, supaya dapat menjadi batu hidup.

Apakah yang dimaksud batu hidup oleh Tuhan Yesus? Batu hidup adalah kita pengikut Yesus, yang bekerja untuk pembangunan suatu rumah rohani, yaitu sekumpulan umat Allah yang mendengarkan, memahami dan melaksanakan apa yang dikehendaki oleh Allah Bapa.

Apa itu kehendak Allah Bapa? Bagaimana cara kita mengetahui kehendak-Nya? Ikutilah apa yang dilakukan dan sudah diteladankan oleh Yesus yang setia kepada kehendak Bapa-Nya sampai wafat di salib. Yesus dan Bapa adalah satu, maka kehendak Yesus adalah kehendak Bapa. Bagaimana dengan kita, sudahkah menjadi batu hidup atau malah menjadi batu sandungan?   

Sejak akhir bulan Febuari 2026 mulai terjadi konflik di Timur Tengah. Hal ini mengakibatkan kenaikan harga  bahan baku (raw material) yang cukup tinggi. Sektor tempat saya bekerja, harga jual harus naik cukup tinggi, mencapai 20% bahkan 40%. Belum lagi harga 'packaging' yang berbahan dasar plastik naik sampai 100% karena kelangkaan bahan baku. Tidak hanya saya saja yang pusing, tapi di sektor-sektor lain pasti juga mengalami hal yang sama. Setiap hari kita melihat atau mendengarkan media cetak, elektronik dan media digital lainnya, memberitakan hal-hal yang membuat kita semua gelisah, cemas dan takut. Sampai kapan konflik akan berakhir? Nanti bagaimana? Apakah akan terjadi hal-hal yang lebih buruk? 

Saya mulai merenung, mengapa hal ini bisa terjadi? Seandainya para pemimpin bangsa menjadi batu hidup, tentu hal ini tidak akan terjadi. Seandainya mereka meneladani Kristus yang mengutamakan damai sejahtera; dunia ini akan damai. Sekarang pertanyaan itu ditujukan kepada saya, sudahkah saya menjadi batu hidup?

Doa:
Tuhan Yesus, kami mau menjadi batu hidup dengan hidup seturut kehendak-Mu. Kami mau melayani Engkau dengan melayani sesamaku. Kami mau mencintai Engkau dengan mengasihi sesamaku. Utuslah Roh Kudus-Mu agar kami selalu dimampukan untuk setia  dalam jalan kebenaran dan hidup, yaitu Engkau sendiri. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah