(Renungan) Suka Duka Mengikuti Yesus

Suka Duka Mengikuti Yesus
(P. Agung Tri Wahyunto)

“Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!”
(Mrk. 10:28)

Kalender Liturgi Selasa, 26 Mei 2026
Bacaan Pertama: 1Pet. 1:10-16  
Mazmur Tanggapan: Mzm. 98:1.2-3ab.3c-4
Bacaan Injil: Mrk. 10:28-31 

Kali ini murid-murid Yesus mengeluh dan putus asa. Mereka telah meninggalkan segala sesuatu demi mengikuti Yesus, namun belum mendapatkan sesuatu yang setimpal. Sebaliknya, Yesus menyakinkan mereka akan mendapat balasan dengan berlipat ganda, baik di dunia dan kehidupan kekal. Namun, murid-murid Yesus belum memahami apa maksud pesan yang disampaikan Yesus.

Sikap para murid tersebut mewakili perasaan dan pikiranku, dan mungkin juga di antara kita yang sedang dalam peziarahan mengikuti Yesus. Sungguh bukan hal yang mudah, ketika aku berpikir secara transaksional. Dengan memberikan segalanya aku dapat apa, dan ketika belum mendapat sesuatu yang diharapkan maka yang muncul adalah keluhan, keputusaasaan, bahkan tidak percaya diri akan janji Yesus.

Ketika kita menerima Sakramen Baptis, kita adalah orang yang dikasihani dan diselamatkan oleh Kristus, dan akan melaksanakan kehidupan yang sesuai dengan tiga pokok, yaitu membina relasi dengan Allah, hidup kudus, dan mengasihi sesama.

Namun, dalam praktek hidup sehari-hari, membangun relasi dengan Allah tidak sepenuhnya bisa berjalan dengan sepenuh hati. Sikap pasrah diri akan penyertaan Tuhan terkadang masih dikalahkan dengan kepentingan duniawi seperti harta, hawa nafsu dan sebagainya. 

Pernah suatu ketika aku diminta umat menjadi ketua lingkungan. Responsku adalah dengan keras menolak. Merefleksikan kejadian itu, aku menyadari bahwa aku sedang penuh keduniawian dan sangat transaksional. Aku menganggap menjadi ketua lingkungan adalah beban dan tidak menguntungkan. Namun, di kemudian hari aku menyadari bahwa hanya karena rahmat Tuhanlah yang memampukan aku menerima tugas pelayanan itu. Sekarang, aku memiliki relasi dengan Tuhan yang lebih intim. Maka ketika aku mengalami kesusahan, kendala dalam melaksanakan tugas pelayanan, aku menghayati bahwa semua itu adalah bagian dari anugerah Tuhan. Karena untuk itulah aku dipanggil, sebab Kristus pun telah meninggalkan teladan bagiku untuk mengikuti jejak-Nya.

Marilah kita selalu bersyukur karena telah dipanggil menjadi murid-Nya dan diundang melakukan tugas perutusan penuh suka cita untuk mengasihi sesama dan memuliakan nama-Nya.

Doa:
Bapa Yang Maha Rahim, kasih-Mu yang tiada batas telah menyelamatkan kami dari jurang keduniawian. Melalui Yesus Putera-Mu, Engkau telah memanggil kami untuk menjadi murid-Nya dan menjadi saksi kepada semua orang. Curahkanlah selalu rahmat-Mu agar kami selalu hidup dalam kepenuhan Roh dan menjadi berkat bagi sesama. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah