(Renungan) Damai Sejahtera Versi Dunia atau Versi Tuhan Yesus

Damai Sejahtera Versi Dunia atau Versi Tuhan Yesus 
(Yoseph dan Caroline Pandisurya)

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu.
(Yoh. 14:27a)

Kalender Liturgi Selasa 5 Mei 2026
Bacaan Pertama: Kis. 14:19-28
Mazmur Tanggapan: Mzm. 145:10-11.12-13ab.21
Bacaan Injil: Yoh. 14:27-31a

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mencari damai sejahtera, yaitu melalui keadaan yang nyaman, keuangan cukup, relasi harmonis, atau tubuh sehat. Namun, Yohanes mengingatkan kita bahwa damai sejahtera yang sejati tidak berasal dari dunia ini (Yoh. 14:27). Yesus berkata, “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan Aku memberi kepadamu tidak seperti dunia memberi.” Kalimat ini sangat dalam maknanya. Dunia memberikan damai yang bersyarat: selama situasi berjalan baik, kita merasa damai. Tetapi begitu masalah datang, penyakit, kehilangan, konflik, damai itu langsung hilang. Sebaliknya, damai yang Yesus berikan bersifat kekal dan tidak tergantung situasi. Damai ini lahir dari hubungan personal dengan-Nya. Bahkan di tengah badai kehidupan, hati tetap tenang karena tahu bahwa Tuhan menyertai dan memegang kendali.

Saat saya sebagai karyawan sepuluh tahun lalu, sempat terjadi miskomunikasi dengan atasan expatriate yang tidak lancar berbahasa Inggris, sementara saya tidak bisa berbahasa Mandarin. Satu saat di dalam ruangannya, saya dimaki-maki dalam bahasa Mandarin campur bahasa Inggris. Dia merasa saya menuduh ia melakukan mark-up. Hubungan kerja yang terjalin baik hampir dua tahun hilang begitu saja sore itu. Saya hanya bisa membawa kegelisahan dalam doa. Walaupun kesal tetap mendoakan atasan dan berharap ada jalan keluar. Rupanya saat dia marah, karena kerasnya, terdengar juga ke divisi lain yang masih satu lantai. Si ‘pendengar’ ini yang sama levelnya dengan atasan saya, menjadi mediator yang mendamaikan kami tiga hari kerja berikutnya.

Yesus berkata, “Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Ini bukan sekadar nasihat, tetapi undangan untuk percaya. Percaya bahwa rencana Tuhan selalu baik, bahkan ketika kita tidak mengerti jalan-Nya. Kita diajak untuk memeriksa: damai seperti apa yang kita cari? Jika kita masih bergantung pada keadaan dunia, kita akan mudah goyah. Namun, jika kita bersandar pada damai dari Kristus, kita akan tetap teguh, apa pun yang terjadi.

Mari belajar tinggal dalam damai-Nya! Datang kepada Tuhan dalam doa, serahkan kekhawatiran kita, dan izinkan damai-Nya memenuhi hati kita!

Doa:
Ya Tuhan, hidup damai dan sejahtera bersama sesama adalah salah satu tujuan hidup kami di dunia. Menjalin relasi personal yang intim dengan-Mu ternyata harus dilakukan dahulu. Mampukan kami untuk percaya rencana-Mu selalu baik, menenangkan jiwa dan menguatkan iman kami. Amin.
 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah