(Renungan) Dukacita Menjadi Sukacita
Dukacita Menjadi Sukacita
(Julius Saviordi)
(Julius Saviordi)
“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira. Kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.”
(Yoh. 16:20)
Bacaan Pertama: Kis 18:9-18
Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3.4-5.6-7
Bacaan Injil: Yoh 16:20-23a
Dalam perjamuan terakhir, Yesus banyak memberikan pengajaran kepada murid-murid-Nya. Salah satunya adalah tentang dukacita yang akan dialami murid-murid-Nya akibat kematian-Nya. Tetapi dukacita itu tidak akan lama. Dukacita itu akan berubah menjadi sukacita. Mereka tidak akan mengingat lagi dukacita itu. Seperti seorang perempuan yang menderita saat melahirkan, tetapi kemudian melupakan penderitaannya karena sukacita atas kelahiran seorang anak.
Tuhan Yesus saat itu dimusuhi orang-orang Farisi dan akan mengalami kematian. Murid-murid-Nya akan berdukacita karena kematian-Nya. Tetapi hal itu hanya sekejap saja. Di hari ketiga Tuhan Yesus akan bangkit. Kebangkitan-Nya akan membawa sukacita bagi murid-murid-Nya. Sukacita itu tidak akan ada yang mampu merampasnya.
Sabda itu mengingatkanku pada pengalaman ketika mengikuti reuni Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) kampusku, pada tanggal 12 Januari 2025. Aku merasakan sukacita melihat perkembangan KMK di kampus kami. Di acara itu hadir 100-200 orang aktivis KMK dari berbagai generasi. Aku bersyukur sempat menjadi bagian dari pelayanan ini.
Tahun 1990-1991 adalah masa awal pembentukan KMK di kampus kami. Aku terlibat dalam kegiatan untuk mahasiswa kuliah malam. Sebelum memulai, kami bersepakat, bahwa 'kami akan tetap bertahan mengadakan kegiatan setidaknya sampai enam bulan, walaupun yang hadir sedikit'. Puji Tuhan, pelayanan ini sudah berjalan selama 35 tahun. Aku merasakan bahwa Tuhan sungguh bekerja.
Sukacita ini menggantikan semua dukacita perjuangan kami di masa itu. Setidaknya waktu itu, aku harus mengalahkan diri sendiri. Biasanya sepulang kuliah aku langsung pulang pukul 21.00, tetapi pada hari-hari pelayanan, aku harus pulang lebih larut malam. Aku dan tim juga harus mendatangi kediaman para pembawa Firman untuk meminta kesediaan mereka membawakan Firman di acara kami. Selain itu, aku harus membuat flyer dan memasangnya di papan pengumuman setiap ruang kelas. Aku pun 'terpaksa' bermain gitar, walaupun di masa itu aku belum lancar bermain gitar.
Bagi Anda yang masih menghadapi dukacita dalam pelayanan, percayalah bahwa Tuhan akan menghadirkan sukacita, karena kita telah dipercaya ambil bagian dalam karya pelayanan-Nya!
Doa:
Tuhan Yesus, kami bersyukur menjadi bagian dalam pelayanan-Mu. Kami percaya Engkau akan menolong kami dalam segala tantangan dan rintangan. Kami bersyukur atas sukacita yang Kau berikan ganti dukacita. Amin.

Komentar
Posting Komentar