(Renungan) Iman yang Menyelamatkan
Iman yang Menyelamatkan
(Wiwi Setiawati Dermawan)
(Wiwi Setiawati Dermawan)
Lalu kata Yesus kepadanya, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Seketika itu juga ia dapat melihat lagi, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.
(Mrk. 10:52)
Kalender Liturgi Kamis, 28 Mei 2026
Bacaan Pertama: 1Ptr 2:2-5.9-12
Mazmur Tanggapan: Mzm. 100:2.3.4.5
Bacaan Injil: Mrk. 10:46-52
Bacaan Pertama: 1Ptr 2:2-5.9-12
Mazmur Tanggapan: Mzm. 100:2.3.4.5
Bacaan Injil: Mrk. 10:46-52
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat (Ibr. 11:1). Karena iman, kita mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat terjadi dari apa yang tidak kita lihat, bahwa Allah itu ada dan memberi upah kepada orang-orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibr. 11:6).
Bartimeus sungguh mengimani bahwa Yesus Anak Daud. Dengan keras ia berseru, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku." Bartimeus secara fisik tidak dapat melihat, tapi secara iman dan akal budi dapat melihat Yesus adalah Putera Allah.
Saat Yesus memanggilnya, dia menanggalkan jubahnya, telah siap untuk meninggalkan manusia lamanya. Seketika itu juga ia dapat melihat lagi, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.
Dalam iman, akal budi dan kehendak manusia bekerja sama dengan rahmat Ilahi. "Iman adalah satu kegiatan akal budi yang menerima kebenaran Ilahi atas perintah kehendak yang digerakkan oleh Allah dengan perantaraan rahmat." (KGK. 155)
St. Thomas menuliskan dalam Summa Theologica: iman membimbing akal budi, menghindarkan dari kesalahan, akal budi memperjelas dan menyingkapkan iman.
Fanny Crosby, penulis pujian yang terkenal, buta sejak berusia enam minggu. Walau fisik terkendala, tetap bersukacita karena iman pada Allah, menuliskan: “Oh, betapa bahagianya jiwaku, walau tak dapat kumelihat, kutetapkan hati, bahwa di dunia ini akan dipuaskanlah aku. Betapa banyak rahmat yang telah kunikmati yang tidak dapat dinikmati oleh orang lain! Meratap dan berkeluh kesah karena kebutaanku, sungguh kutak dapat, dan tak akan kulalukan.”
Tanpa saya sadari, saya pun mendapatkan sukacita yang penuh. Selama ini, kurang lebih empat puluh tahun; setiap hari saya berdoa rosario. Tanpa beban, tanpa ikatan, tanpa keinginan-keinginan yang muluk. Saya mengimani bahwa Yesus dan Bunda Maria selalu menyertai saya.
Semoga sebagai orang beriman dapat mempercayakan diri kita dengan bebas kepada Allah Bapa yang mencintai kita (Paus Benediktus XVI).
Doa:
Terima kasih Allah Bapa atas rahmat-Mu yang menguatkan kami untuk semakin mendalami iman kami. Kami mohon karunia iman yang bertumbuh. Mampukan kami untuk dapat meneladani iman bunda Maria yang setia dan taat pada kehendak-Mu. Amin.

Komentar
Posting Komentar