(Renungan) Kasih Tritunggal: Memulihkan Taman Beton Kita

Kasih Tritunggal: Memulihkan Taman Beton Kita
(Yoseph Deddy Kurniawan)

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."
(Yoh. 3:16)

Kalender Liturgi Minggu, 31 Mei 2026
Hari Raya Tritunggal Maha Kudus
Bacaan Pertama: Kel. 34:4b-6,8-9
Mazmur Tanggapan: Dan. 3:52-56
Bacaan Kedua: 2Kor. 13:11-13
Bacaan Injil: Yoh. 3:16-18

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota yang sering terasa dingin dan individualistis, perayaan Hari Raya Tritunggal Maha Kudus mengingatkan kita, bahwa Allah bukanlah pribadi yang jauh dan terpisah dari kehidupan manusia. Justru sebaliknya, Allah menyatakan diri sebagai persekutuan kasih yang hidup dan aktif menjangkau ciptaan-Nya. 

Dalam teks aslinya, Injil Yohanes menggunakan istilah Yunani 'kosmos' untuk menyebut 'dunia'. Istilah ini tidak hanya menunjuk pada manusia secara individual, melainkan pada seluruh tatanan ciptaan. Dengan demikian, kasih Allah yang dinyatakan dalam pengutusan Putra-Nya adalah kasih yang bersifat kosmik, menyentuh manusia, alam, dan seluruh kehidupan.

Tritunggal adalah model komunitas yang sempurna: Bapa yang mengutus, Putra yang menyerahkan diri sepenuhnya, dan Roh Kudus yang terus menghidupkan dan membaharui. Inisiatif kasih selalu datang dari Bapa. Putra diutus bukan untuk menghakimi kekacauan kosmos, melainkan untuk memulihkan keharmonisan yang telah rusak oleh dosa. Dalam karya penyelamatan inilah Roh Kudus hadir, menuntun manusia untuk memilih hidup dalam terang ketaatan, bukan tenggelam dalam kegelapan perusakan.

Jika Allah sendiri adalah persekutuan kasih, maka kita yang diciptakan menurut gambar-Nya dipanggil untuk membangun relasi dan komunitas yang mencerminkan kasih tersebut. Kepedulian terhadap lingkungan hidup, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, bukan sekadar mengikuti tren ekologis, melainkan merupakan ungkapan iman dan tindakan liturgis yang nyata.

Setiap upaya kecil, menanam pohon di lahan sempit, memilah sampah rumah tangga, menjaga kebersihan sungai, atau mendukung ruang terbuka hijau, adalah cerminan karya Tritunggal. Kreativitas Bapa, pengorbanan Putra, dan pemeliharaan Roh Kudus. Kota yang sesak dan tercemar sering kali lahir dari keserakahan manusia yang memutus relasi kasih. Dengan merawat lingkungan, kita mengakui bahwa kota ini bukan semata milik manusia, melainkan milik Allah yang dipercayakan kepada kita. Sudahkah kita sungguh menyadari dan menghidupi panggilan ini?

Marilah kita merayakan Hari Raya Tritunggal Maha Kudus dengan menjadi perpanjangan tangan kasih-Nya. Biarlah setiap sudut beton di kota kita menjadi saksi bahwa kasih Allah sungguh memulihkan dan menghidupkan kembali seluruh ciptaan.

Doa:
Bapa Surgawi, di Hari Raya Tritunggal Maha Kudus ini, kami bersyukur atas kasih-Mu yang radikal bagi seluruh kosmos melalui Kristus dalam bimbingan Roh Kudus. Ampunilah kami jika sering kali abai terhadap kelestarian alam di tengah hiruk-pikuk kota ini. Mampukanlah kami mewujudkan iman melalui tindakan nyata merawat ciptaan sebagai bentuk syukur atas keselamatan-Mu, agar hidup kami benar-benar menjadi terang yang membawa pemulihan bagi lingkungan tempat kami berpijak, demi Kristus Tuhan kami. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah