(Renungan) Manusiawi dalam Perutusan

Manusiawi dalam Perutusan
(Angelika Endang)

“Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia”
(Yoh. 17:18)

Bacaan Liturgi Rabu, 20 Mei 2026.
Bacaan Pertama: Kis. 20:28-38
Mazmur Tanggapan: Mzm. 68:29-30.33-35.a.35b-36c
Bacaan Injil: Yoh. 17:11b-19

“Pergilah, Misa sudah selesai dan kita diutus.” Kalimat yang diucapkan romo/pastor setelah pemberian berkat. Sebuah makna yang mendalam dari perutusan. Umat tidak berhenti beribadah di dalam gereja, tetapi diutus keluar untuk mewartakan kasih dan damai Kristus. Selain itu, mampu untuk hidup yang mencerminkan kasih dan kebenaran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan; baik dalam keluarga, tempat kerja, dan masyarakat.

Perutusan tersebut sesuai perkataan Yesus sendiri dalam perikop Injil hari ini, dan ditegaskan kembali dalam Yoh. 20:21: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”

Di zaman yang serba digital dan 'cuek' ini, Yesus tetap ingin semua pengikut-Nya menjadi manusia yang manusiawi; memanusiakan orang lain, punya rasa empati atau tepa selira kepada sesama.

Saat masih kecil, saya diajar oleh kakek, nenek, dan mama tentang sopan santun kepada yang lebih tua, ucapan minta tolong, terima kasih, dan maaf. Saya pun menerapkannya kepada anak-anak, bahkan kepada pembantu rumah tangga. Mereka bertugas membantu, bukan untuk diperlakukan semena-mena. Memang betul, kita sudah memberi gaji, tapi mereka juga butuh perhatian, kasih, dan dihargai sebagai manusia. 

Saya mengajarkan anak-anak kalau mau suruh mbak, harus bilang 'tolong', mengucapkan 'terima kasih' saat sudah dibantu, 'minta maaf' saat merasa bersalah, dan kalau ada makanan juga membagi mereka. 

Syukur puji Tuhan, anak yang sulung juga mendidik anaknya seperti itu. Dia mencuci piringnya sendiri sehabis makan. Bila sedang buru-buru dia selalu bilang, “Tolong titip ya, bi.” atau “Tolong titip ya, mam.” Setiap kali ingin minta tolong dibuatkan sesuatu, pasti mereka selalu bilang 'terima kasih'.

Memang ucapan 'minta tolong, terima kasih, dan maaf' adalah hal yang kelihatannya sepele. Tetapi bagi sebagian orang dan saya pribadi, merasa bahwa saya dihargai dan dianggap sebagai manusia seutuhnya. 

Hidup adalah sebuah anugerah dan perutusan. Kita dituntut untuk menjadi perpanjangan kaki dan tangan Tuhan selama kita hidup. Mari kita lakukan sesuai dengan talenta kita masing-masing!

Doa:
Bapa Kasih-Mu nyata dalam perutusan ini 
Kau temani kami dengan pesona cinta-Mu
Kasih-Mu yang setia menuntun kami umat-Mu
Hingga penuh warna perutusan-Mu

Reff: 
Bapa tuntunlah kami dalam pewartaan ini 
Agar semua terjadi sesuai dengan kehendak-Mu
Tuhan sertai kami dalam perutusan ini
Sehingga semua terjadi seturut dengan kehendak-Mu. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah