(Renungan) Mengungkapkan Penyesalan dengan Kasih dan Kesetiaan
Mengungkapkan Penyesalan dengan Kasih dan Kesetiaan
(Is Susetyaningtyas)
(Is Susetyaningtyas)
Dan ia berkata kepada-Nya,
“Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.”
Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku.”
(Yoh. 21:17b)
Kalender Liturgi Jumat, 22 Mei 2026
Bacaan Pertama: Kis. 25:13-21
Mazmur Tanggapan: Mzm. 103:1-2.11-12.19-20ab
Bacaan Injil: Yoh. 21:15-19
Dalam perikop itu terdapat penggambaran yang indah bagaimana Yesus memberi Petrus kesempatan untuk mengungkapkan penyesalannya melalui kasih. Penyangkalan Petrus tiga kali diimbangi dengan tiga kali pernyataan kasihnya. Mengapa Petrus bisa berbalik? Dalam buku Burung Berkicau, Anthony de Mello mengisahkan bahwa ketika ayam berkokok, Yesus berpaling memandang Petrus dan Petrus pergi keluar, menangis tersedu-sedu, karena mendapati bahwa dalam pandangan mata Yesus tidak ada tuduhan, tidak ada tuntutan. Mata-Nya hanya berkata, “Aku mencintaimu.”
Yesus tetap mencintai meski pernah dikhianati. Pertanyaan Yesus yang sampai tiga kali memang membuat Petrus duka hati, karena ingat kalau pernah cedera janji. Namun menyadari akan cinta Yesus, Petrus tidak bisa berkata lain kecuali menyatakan cintanya dan menyanggupi tugas yang Yesus berikan. Kita bersyukur bahwa Petrus menerima penugasan itu, sehingga dia menjadi Paus kita yang pertama.
Hal lain yang patut kita teladani dari Petrus adalah bahwa dia mampu mengampuni dirinya sendiri. Tidak semua orang bisa. Rekannya sesama Rasul bahkan menemui ajalnya karena tidak bisa menerima pengampunan dari Allah. Merasa sedemikian besar dosanya adalah satu hal, tetapi menolak mengakui kemaharahiman Allah yang melampaui besarnya dosa adalah hal yang lain lagi. Ini mengarah ke kesombongan diri.
Pernah dalam sebuah sharing seseorang mengemukakan bahwa ayahnya mengaku dosa sampai dua puluh kali untuk kesalahan yang sama, tapi tetap saja masih merasa berdosa. Sayang sekali perasaan itu masih terus terbawa sampai dia meninggal. Entah apa yang terjadi di pengadilan terakhirnya. Jangan-jangan Tuhan hanya mengatakan, "Kesalahan yang mana yang kamu perkarakan? Aku sudah tidak mengingatnya, sudah sekian lama Aku mengampuninya."
Mari kita hidup baik menjauhkan diri dari dosa! Tetapi ketika toh jatuh juga ke dalam dosa, mari merendahkan diri memohon pengampunan dosa dari Tuhan dan membiarkan Tuhan membuat kita yang tadinya merah seperti kirmizi atau kain kesumba karena dosa, kembali menjadi putih seperti salju atau bulu domba.
Doa:
Ya Allah, mampukan kami hidup baik dan menjauhkan diri dari dosa. Tetapi karena kemanusiaan kami, kami rawan terjatuh. Ketika hal itu terjadi ya Tuhan, mampukan kami merendahkan diri memohon ampunan-Mu, dan mengakui kemahabesaran-Mu yang mengampuni dan menyelamatkan kami. Sebab Engkau telah mengirimkan Yesus, Putra-Mu, untuk menebus kami. Dialah Tuhan dan Juru Selamat kami, sekarang dan selama-lamanya. Amin.
Ya Allah, mampukan kami hidup baik dan menjauhkan diri dari dosa. Tetapi karena kemanusiaan kami, kami rawan terjatuh. Ketika hal itu terjadi ya Tuhan, mampukan kami merendahkan diri memohon ampunan-Mu, dan mengakui kemahabesaran-Mu yang mengampuni dan menyelamatkan kami. Sebab Engkau telah mengirimkan Yesus, Putra-Mu, untuk menebus kami. Dialah Tuhan dan Juru Selamat kami, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Komentar
Posting Komentar