(Renungan) Stop Kepo dan Ikut Yesus

Stop Kepo dan Ikut Yesus
(G.B. Fenty L.)

Jawab Yesus, "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tetap hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Namun engkau: ikutlah Aku."
(Yoh. 21:22)

Kalender Liturgi Sabtu, 23 Mei 2026
Bacaan Pertama: Kis. 28:16-20.30-31
Mazmur Tanggapan: Mzm. 11:4.5.7
Bacaan Injil: Yoh. 21:20-25

Kata ‘kepo’ semakin akrab terdengar dalam percakapan sehari-hari dewasa ini. Kata ini sesungguhnya merupakan kata serapan dari Bahasa Hokkian, Cina. Dalam KBBI, istilah ini mengungkapkan rasa ingin tahu yang berlebihan terhadap urusan orang lain. Ungkapan rasa tersebut kemudian tumbuh menjadi sikap sok tahu yang dibalut rasa perduli yang berlebihan. Tanpa disadari secara perlahan sikap itu berkembang dan menumbuhkan kesombongan rohani, yang pada akhirnya merusak keimanan. Hal ini sering kali luput dari perhatian kita.

Dalam Injil Yohanes 21:20, Petrus diceritakan berpaling dan mulai ingin tahu tentang rencana Tuhan atas hidup temannya sendiri. Padahal, pada perikop sebelumnya Yesus telah memberikan tugas yang jelas kepadanya, yaitu menggembalakan domba-domba-Nya. 
Karena rasa keingintahuannya yang besar, Petrus hampir kehilangan fokus pada tugas panggilannya sendiri. Petrus menjadi sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna, ia tak lagi berpusat pada Yesus, namun pada pemikirannya sendiri.

Hal serupa acap kali terlihat jelas saat ada musibah kecelakaan lalu lintas misalnya, orang lebih cepat merekam kecelakaan tersebut daripada menolong korban terlebih dahulu, di mana rasa ingin tahu mengalahkan empati.

Kita sibuk dengan kehidupan orang lain, dan menjadi lalai dalam menghidupi panggilan kita sebagai pengikut Kristus. Kita ingin mengatur segalanya, menjadi seperti yang kita mau. Bahkan mencoba mengatur Tuhan dengan meminta doa dikabulkan, padahal belum tentu itu yang terbaik bagi kita. 

Kita boleh merencanakan hidup, tetapi Tuhanlah yang menentukan segalanya. Misteri dan kerahiman-Nya melampaui pemikiran manusia. Kita tidak perlu memahami seluruh rencana Tuhan, karena itu bukan bagian kita. Yang diminta dari kita adalah ikut Tuhan dengan kesetiaan dan ketaatan. 

Karena itu, marilah kita belajar untuk tidak sibuk dengan hal-hal yang tidak membawa kita kepada kebaikan sejati. Fokuslah pada panggilan kita sendiri, setia mengikuti Kristus, dan hidup dalam kasih-Nya setiap hari.

Doa:
Ya Yesus, tambahkanlah kesetiaan kami untuk senantiasa mengikuti Engkau, Sang Kebenaran Sejati dan Juru Selamat kami. Biarkan kami menghidupi iman kami dengan berhenti khawatir dan setia untuk berjalan bersama-Mu. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah