(Renungan) Tetap Setia dalam Penderitaan
Tetap Setia dalam Penderitaan
(Nima Sirait)
(Nima Sirait)
“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."
(Yoh. 16:33)
Bacaan Pertama: Kis. 19:1-8
Mazmur Tanggapan: Mzm. 68:2-3.4-5ac.6-7ab
Bacaan Injil: Yoh. 16:29-33
Saat mulai menjalani kemoterapi pada Januari 2026, saya begitu percaya diri. Saya membayangkan, enam sesi terapi dalam lima bulan akan terlalui dengan cepat dan tanpa hambatan berarti. Saya percaya Tuhan akan memegang tangan saya. Berbagai informasi tentang efek kemoterapi sudah saya pelajari. Saya pikir, saya siap.
Namun kenyataan sungguh berbeda.
Dua minggu setelah sesi pertama, rambut saya rontok. Rambut panjang yang selama ini saya rawat dengan baik, jatuh hingga tidak tersisa. Kuku menghitam, kulit menggelap, dan mual datang tanpa jeda. Perubahan itu terjadi begitu cepat, tanpa memberi saya ruang untuk bersiap. Tubuh saya berubah, dan saya tidak siap.
Bukan hanya fisik yang terdampak. Hati saya pun ikut goyah. Saya menjadi lebih sensitif, mudah menangis, dan kesepian. Dalam diam, muncul pertanyaan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, "Tuhan, di mana Engkau? Bukankah sebelumnya saya begitu yakin Tuhan akan menjaga saya?"
Kepercayaan diri yang dulu terasa kuat, perlahan memudar. Saya mulai menyadari, ternyata saya belum benar-benar siap menjalani proses ini.
Injil Yohanes 16:29-33 adalah bagian akhir pengajaran Yesus sebelum penyaliban-Nya. Ia berbicara tentang penderitaan yang akan mendahului kemenangan. Para murid menyatakan keyakinan bahwa mereka tahu dan percaya, Yesus datang dari Allah. Mereka merasa telah siap menghadapi ujian iman sebagai pengikut Yesus.
Namun respons Yesus mengejutkan. Ia mengatakan bahwa para murid akan tercerai-berai dan meninggalkan-Nya. Sebuah peringatan bahwa rasa yakin tidak selalu sejalan dengan ketahanan iman saat ujian datang. Murid-murid memang percaya, tetapi iman mereka belum teruji dalam penderitaan.
Yesus tidak menutupi kenyataan bahwa hidup diwarnai penderitaan. Tetapi Ia juga memberi pengharapan bahwa Ia telah mengalahkan dunia.
Perikop ini menyadarkan bahwa iman bukan tentang saya yang merasa mampu, melainkan pada kemenangan Kristus yang sudah lebih dulu terjadi. Bahkan ketika manusia goyah, Tuhan tetap setia. Iman adalah keberanian untuk menguatkan hati, agar beroleh damai sejahtera dalam Dia, meski proses terasa berat dan belum selesai.
Doa:
Allah Yang Maha Rahim, di tengah rasa sakit dan kegoyahan hati, ajarilah kami untuk tetap percaya pada penyertaan-Mu. Kuatkan hati kami, Tuhan, dan berilah damai sejahtera selama menjalani hidup dan tugas perutusan kami. Pakailah kami, agar meski dalam kelemahan kami menjadi saluran kasih dan pengharapan bagi sesama. Amin.
Allah Yang Maha Rahim, di tengah rasa sakit dan kegoyahan hati, ajarilah kami untuk tetap percaya pada penyertaan-Mu. Kuatkan hati kami, Tuhan, dan berilah damai sejahtera selama menjalani hidup dan tugas perutusan kami. Pakailah kami, agar meski dalam kelemahan kami menjadi saluran kasih dan pengharapan bagi sesama. Amin.

Komentar
Posting Komentar