(Renungan) Allah Bekerja dalam Kesetiaan yang Sunyi

Allah Bekerja dalam Kesetiaan yang Sunyi
(Irene Purnomo)

Berkatalah Elisa, “Pada waktu seperti ini juga, tahun depan, engkau akan mendekap seorang anak laki-laki.” 
(2Raj. 4:16a)

Kalender Liturgi Minggu, 28 Juni 2026
Bacaan Pertama: 2Raj. 4:8-11.14-16a
Mazmur Tanggapan: Mzm. 89:2-3.16-17.18-19
Bacaan Kedua: Rom. 6:3-4.8-11
Bacaan Injil: Mat. 10:37-42

Kitab 2Raja-Raja ini berkisah tentang seorang perempuan Sunem yang berjumpa dengan Nabi Elisa. Ia mampu mengenali bahwa Elisa adalah abdi Allah. Karena itu, ia membuka rumahnya, bahkan membangun sebuah kamar kecil lengkap dengan perabotannya agar Elisa dapat tinggal di sana. Sesungguhnya, ia bukan hanya membuka rumahnya, tetapi juga membuka hatinya bagi Tuhan.

Namun di balik kebaikannya, tersimpan kenyataan hidup yang tidak mudah. Ia tidak mempunyai anak. Pada zaman itu, perempuan yang tidak memiliki anak sering dipandang tidak diberkati, bahkan dianggap membawa aib. Menariknya, perempuan ini tidak pernah mengungkapkan kepedihannya. Ia melayani bukan untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan. Tetapi justru di situlah Allah bekerja. Melalui Elisa, Allah mengambil inisiatif dan menjanjikan seorang anak baginya. Benar, perempuan Sunem itu akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki seperti yang dinubuatkan Elisa. Allah melihat luka yang tidak terucapkan dan menjawabnya dengan kasih-Nya. 

Beberapa waktu lalu, aku juga pernah berada di titik lelah dalam pelayanan. “Untuk apa aku terus melayani kalau tidak ada yang peduli?” Pertanyaan itu berputar di kepalaku. Rasanya pelayananku sia-sia. Tetapi hari itu, aku tetap datang melayani seperti biasa. Setelah pelayanan selesai, seorang ibu menghampiriku dengan mata basah. Dengan suara bergetar ia berkata, “Terima kasih… hari ini saya dikuatkan. Saya hampir menyerah.”

Aku terdiam. Di saat aku merasa pelayananku tidak berarti, ternyata Tuhan sedang memakai hal kecil itu untuk menyelamatkan hati seseorang. Saat itulah aku sadar, bahwa Tuhan tetap bekerja, bahkan ketika aku hampir berhenti melayani.

Melalui Sabda ini, kita diajak percaya bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia, tidak ada luka yang tersembunyi dari Tuhan, dan tidak ada kesetiaan yang luput dari perhatian-Nya.

Apakah kita sudah seperti perempuan Sunem: hidup dalam iman, bertindak dalam kasih, dan membuka hati bagi Tuhan? Ketika kita membuka ruang bagi-Nya, kita akan menyadari bahwa Tuhan sudah lebih dahulu hadir dan memberkati hidup kita, bahkan sebelum kita sempat meminta.

Doa:
Allah Yang Maha Rahim, ketika kami lelah dan merasa apa yang kami lakukan sia-sia, ingatkanlah kami bahwa Engkau melihat setiap kesetiaan dan kebaikan yang kami lakukan. Ajarlah kami tetap setia melayani dan membuka hati bagi-Mu, sebab Engkau tetap bekerja, bahkan melalui hal-hal kecil dalam hidup kami. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah